Thursday, 15 September 2011

Makalah Jurnalistik; HISTORIS JURNALISTIK

Posted by Admin 12:10:00, under ,,,, | No comments

MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
“Jurnalistik”



Dosen Pembimbing:
M. Choirul Arief, S.Ag M.Fil.I

  Disusun Oleh:
Sutamaji
B06209053
 
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2010

BAB II
PEMBAHASAN
1.      PENGERTIAN JURNALISTIK
Pengertian atau definisi jurnalistik sangat banyak. Secara etimologi, jurnalistik berasal dari dua suku kata, yakni jurnal dan istik. Jurnal berasal dari bahasa Perancis, jounal, yang berarti catatan harian. Dalam bahasa Latin, juga ada kata yang hampir sama bunyi dan upacannya dengan journal yakni diurna, yang mengandung arti hari ini.
Pada zaman Kerajaan Romawi Kuno saat Julius Caesar berkuasa, dikenal istilah acta diurna yang mengandung makna rangkaian akta (gerakan, kegiatan, dan kejadian). Kata istik merujuk pada istilah estetika yang berarti ilmu pengetahuan tentang keindahan.
Keindahan dimaksud adalah mewujudkan berbagai produk seni dan atau keterampilan dengan menggunakan bahan-bahan yang diperlukan, seperti kayu, batu, kertas, cat, atau suara. Dalam hal ini meliputi semua macam bangunan, kesusastraan, dan musik.
Hasil seni dan atau keterampilan dimaksud mengandung nilai-nilai yang bisa diminati dan dinikmati manusia pengagumnya, karena keindahan tersebut mengandung makna yang luas, serta mencakup sifat-sifatnya yang obyektif dan subyektif.
Dengan demikian, secara etimologis, jurnalistik dapat diartikan sebagai suatu karya seni dalam hal membuat catatan tentang peristiwa sehari-hari. Karya seni dimaksud memiliki nilai keindahan yang dapat menarik perhatian khalayaknya (pembaca, pendengar, pemirsa), sehingga dapat dinikmati dan dimanfaatkan untuk keperluan hidupnya.
Di dalam istilah jurnalistik juga terkandung makna sebagai suatu seni dan atau keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan informasi dalam bentuk berita secara indah agar dapat diminati dan dinikmati, sehingga bermanfaat bagi segala kebutuhan pergaulan hidup khalayak.
Secara lebih luas, pengertian atau definisi jurnalistik adalah seni dan keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya, sehingga terjadi perubahan sikap, sifat, pendapat, dan perilaku khalayak sesuaia dengan kehendak para jurnalisnya. (Kustadi Suhandang, 2004 : 21)
Masih banyak definisi atau pengertian jurnalistik, antara lain kejadian pencatatan dan atau pelaporan, serta penyebaran tentang kejadian sehari-hari (Astrid S. Susanto, 1986, Komunikasi Massa, Hal. 73).
Onong Uchjana Effendy (1981: 102) menyatakan bahwa jurnalistik merupakan kegiatan pengolahan laporan harian yang menarik minat khalayak, mulai dari peliputan sampai penyebarluasannya kepada masyarakat.
A.W. Widjaja (1986: 27) menyebutkan bahwa jurnalistik merupakan suatu kegiatan komunikasi yang dilakukan dengan cara menyiarkan berita ataupun ulasannya mengenai berbagai peristiwa atau kejadian sehari-hari yang aktual dan faktual dalam waktu secepat-cepatnya.
Ensiklopedi Indonesia secara rinci menerangkan bahwa jurnalistik adalah bidangprofesi yang mengusahakan penyajian informasi tengang kejadian dan atau kehidupan sehari-hari secara berkala, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan yang ada.
Secara harfiah, jurnalistik artinya kewartawanan atau hal-ikhwal pemberitaan. Menurut kamus, jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis di surat kabar, majalah, dan media massa lainnya.
2.      SEJARAH JURNALISTIK
Ada yang berpendapat bahwa Nabi Nuh, adalah orang pertama yang melakukan pencarian dan penyampaian berita.
Dikisahkan bahwa pada waktu itu sebelum Allah SWT menurunkan banjir besar, maka diutuslah malaikat menemui dan mengajarkan cara membuat kapal laut sampai selesai kepada Nabi Nuh. Kapal tersebut dibuat di atas bukit dan bertujuan mengevakuasi Nabi Nuh bersama sanak keluarganya dan seluruh pengikutnya yang saleh dan segala macam hewan masing-masing satu pasang.
Setelah semua itu dilakukan, maka turunlah hujan selama berhari-hari yang disertai angin kencang dan kemudian terjadilah banjir besar. Dunia pun dengan cepat menjadi lautan yang sangat besar dan luas. Nabi Nuh bersama orang-orang yang beriman lainnya dan hewan-hewan di dalam kapal laut, berlayar dengan selamat di atas gelombang lautan banjir yang sangat dahsyat.
Setelah berbulan-bulan lamanya, Nabi Nuh beserta orang-orang beriman lainnya mulai khawatir dan gelisah, karena persediaan makanan mulai berkurang.
Masing-masing penumpang pun mulai bertanya-tanya, apakah banjir besar itu memang tidak berubah atau bagaimana? Mereka pun berupaya mencari dan meminta kepastian. Atas permintaan dan desakan tersebut, Nabi Nuh mengutus seekor burung dara ke luar kapal untuk meneliti keadaan air dan kemungkinan adanya makanan.
Setelah beberapa lama burung itu terbang mengamati keadaan air, dan kian kemari mencari makanan, ternyata upayanya sia-sia belaka. Burung dara itu hanya melihat daun dan ranting pohon zaitun (olijf) yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu pun di patuknya dan dibawanya pulang ke kapal.
Atas datangnya kembali burung itu dengan membawa ranting zaitun, Nabi Nuh mengambil kesimpulan bahwa air bah sudah mulai surut, namun seluruh permukaan bumi masih tertutup air sehingga burung dara itu pun tidak menemukan tempat untuk istirahat. Maka kabar dan berita itu pun disampaikan Nabi Nuh kepada seluruh anggota penumpangnya.
Atas dasar fakta tersebut, para ahli sejarah menamakan Nabi Nuh sebagai seorang pencari berita dan penyiar kabar (wartawan) yang pertama kali di dunia. Malah ada yang menyimpulkan bahwa Kantor Berita pertama di dunia adalah Kapal Nabi Nuh.
Dalam sejarah Kerajaan Romawi disebutkan bahwa Raja Imam Agung menyuruh orang membuat catatan tentang segala kejadian penting. Catatan itu dibuat pada annals (papan tulis yang digantungkan di serambi rumah raja). Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya.
Pengumuman sejenis itu dilanjutkan oleh Julius Caesar pada zaman kejayaannya. Julius Caesar mengumumkan hasil persidangan senat, berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya, dengan jalan menuliskannya pada papan pengumuman berupa papan tulis pada masa itu (60 SM).
Papan tulis itu dikenal dengan nama acta diurna dan diletakkan di Forum Romanum (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum. Terhadap isi acta diurna tersebut setiap orang boleh membacanya, bahkan juga boleh mengutipnya untuk kemudian disebarluaskan dan dikabarkan ke tempat lain. Acta diurna itulah yang disebut-sebut sebagai cikal bakal lahirnya surat kabar harian.
Seiring kemajuan teknologi informasi, maka yang bermula dari laporan harian maka tercetaklah menjadi surat kabar harian. Dari media cetak berkembang ke media elektronik, dari kemajuan elektronik terciptalah media informasi berupa radio. Tidak cukup dengan radio yang hanya berupa suara muncul pula terobosan baru berupa media audio visual yaitu TV (televisi). Media informasi tidak puas hanya dengan televisi, maka lahirlah internet, sebagai jaringan yang bebas dan tidak terbatas.
Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kini telah lahir banyak media (multimedia). Seorang yang membuka internet, bisa sekaligus mendengar berita radio, atau mendengarkan musik, atau menonton siaran televisi.
3.      SEJARAH JURNALISME INDONESIA
Pada awalnya, komunikasi antar manusia sangat bergantung pada komunikasi dari mulut ke mulut. Catatan sejarah yang berkaitan dengan penerbitan media massa terpicu penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg.
Di Indonesia, perkembangan kegiatan jurnalistik diawali oleh Belanda. Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia pun menggunakan jurnalisme sebagai alat  perjuangan. Di era-era inilah Bintang Timur, Bintang Barat, Java Bode, Medan Prijaji, dan Java Bode terbit.
Pada masa pendudukan Jepang mengambil alih kekuasaan, koran-koran ini dilarang. Akan tetapi pada akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia.
Kemerdekaan Indonesia membawa berkah bagi jurnalisme. Pemerintah Indonesia menggunakan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai media komunikasi. Menjelang penyelenggaraan Asian Games IV, pemerintah memasukkan proyek televisi. Sejak tahun 1962 inilah Televisi Republik Indonesia (TVRI) muncul dengan teknologi layar hitam putih.
Di masa kekuasaan presiden Soeharto, banyak terjadi pembreidelan (pemberangusan) media massa. Kasus Harian Indonesia Raya dan Majalah Tempo merupakan dua contoh nyata dalam sensor kekuasaan ini. Kontrol ini dipegang melalui Departemen Penerangan (Deppen) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Titik kebebasan pers mulai terasa lagi saat BJ Habibie menggantikan Soeharto sebagai Presiden RI, pada 1998. Banyak media massa yang muncul kemudian dan PWI tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi profesi kewartawanan.
Kegiatan jurnalisme diatur dengan Undang-Undang Penyiaran dan Kode Etik Jurnalistik yang dikeluarkan Dewan Pers.

4.      TEKNOLOGI DALAM JURNALISTIK
Kegiatan jurnalisme terkait erat dengan perkembangan teknologi publikasi dan informasi. Pada masa antara tahun 1880-1900, terdapat berbagai kemajuan dalam publikasi jurnalistik. Yang paling menonjol adalah mulai digunakannya mesin cetak cepat, sehingga deadline penulisan berita bisa ditunda hingga malam hari dan mulai munculnya foto di surat kabar.
Pada 1893 untuk pertama kalinya surat-surat kabar di AS menggunakan tinta warna untuk komik dan beberapa bagian di koran edisi Minggu. Pada 1899 mulai digunakan teknologi merekam ke dalam pita, walaupun belum banyak digunakan oleh kalangan jurnalis saat itu.
Pada 1920-an, surat kabar dan majalah mendapatkan pesaing baru dalam pemberitaan, dengan maraknya radio berita. Namun demikian, media cetak tidak sampai kehilangan pembacanya, karena berita yang disiarkan radio lebih singkat dan sifatnya sekilas. Baru pada 1950-an perhatian masyarakat sedikit teralihkan dengan munculnya televisi.
Perkembangan teknologi komputer yang sangat pesat pada era 1970-1980 juga ikut mengubah cara dan proses produksi berita. Selain deadline bisa diundur sepanjang mungkin, proses cetak, copy cetak yang bisa dilakukan secara massif, perwajahan, hingga iklan, dan marketing mengalami perubahan sangat besar dengan penggunaan komputer di industri media massa.
Memasuki era 1990-an, penggunaan teknologi komputer tidak terbatas di ruang redaksi saja. Semakin canggihnya teknologi komputer notebook yang sudah dilengkapi modem dan teknologi wireless, serta akses pengiriman berita teks, foto, dan video melalui internet atau via satelit, telah memudahkan wartawan yang meliput di medan paling sulit sekalipun.
Selain itu, pada era ini juga muncul media jurnalistik multimedia. Perusahaan-perusahaan media raksasa sudah merambah berbagai segmen pasar dan pembaca berita. Tidak hanya bisnis media cetak, radio, dan televisi yang mereka jalankan, tapi juga dunia internet, dengan space iklan yang tak kalah luasnya.
Setiap pengusaha media dan kantor berita juga dituntut untuk juga memiliki media internet ini agar tidak kalah bersaing dan demi menyebarluaskan beritanya ke berbagai kalangan. Setiap media cetak atau elektronik ternama pasti memiliki situs berita di internet, yang updating datanya bisa dalam hitungan menit. Ada juga yang masih menyajikan edisi internetnya sama persis dengan edisi cetak.
Sedangkan pada tahun 2000-an muncul situs-situs pribadi yang juga memuat laporan jurnalistik pemiliknya. Istilah untuk situs pribadi ini adalah weblog dan sering disingkat menjadi blog saja.
Memang tidak semua blog berisikan laporan jurnalistik. Tapi banyak yang memang berisi laporan jurnalistik bermutu. Senior Editor Online Journalism Review, J.D Lasica pernah menulis bahwa blog merupakan salah satu bentuk jurnalisme dan bisa dijadikan sumber untuk berita.
Dalam penggunaan teknologi, Indonesia mungkin agak terlambat dibanding dengan media massa dari negara maju seperti AS, Prancis, dan Inggris. Tetapi untuk saat ini penggunaan teknologi di Indonesia –terutama untuk media televisi– sudah sangat maju. Lihat saja bagaimana Metro TV melakukan laporan live dari Banda Aceh, selang sehari setelah tsunami melanda wilayah itu. Padahal saat itu aliran listrik dan telefon belum tersambung.
STMJ

Monday, 5 September 2011

UTS Metode Penelitian Sosial (MPS)

Posted by Admin 11:04:00, under ,,, | No comments

1. Ilmu adalah suatu pengetahuan , cara cara untuk mengetahui sesuatu yang berlandaskan pada teori yang suadah ada dan sudah dibuktikan.
Pengetahuan adalah informasi yang didapat oleh seseorang tidak harus melalui prosedur atau berlandaskan teori.
Kebenaran yaitu suatu kebenaran yang yang tergantung pada subjektifitas dan tergantung pada objektifitas.
Hubungan antara ketiga komponen tersebut adalah dengan ilmu, suatu pengetahuan itu akan lebih jelas keberadaannya, dan ketika ilmu dan pengetahuan di jadikan satu maka akan akan terbukti suatu kebenaran.

2. Metode Keteguhan ialah orang berpegang teguh pada suatu pendapat karena pendapat itu sudah diyakini kebenarannyasejak lama
Ø      Metode otoritas yaitu sesuatu yang diyakini kebenarannya dengan cara merujuk pada pernyataan orang yang dianggap ahli atau memilih otoritas
Ø      Metode Intuisi adalah sesuatu yang dikatakan benar berdasarkan keyakinan yang tidak perlu dibuktikan lagi
Ø      Variabel adalah konsep yang memiliki keragaman nilai. Tentang hal ini perlu diperhatikan bahwa variabel penelitian bukanlah dikembangkan atau dirumuskan berdasarkan angan-angan atau intuisi peneliti, tetapi harus ditetapkan berdasarkan kajian pustaka
Ø      Konsep adalah suatu abstraksi yang menggambarkan ciri-ciri umum sekelompok objek, peristiwa atau fenomena lainnya. Woodruff (1987), mendefinisikan konsep sebagai berikut: (1) suatu gagasan/ide yang relatif sempurna dan bermakna, (2) suatu pengertian tentang suatu objek, (3) produk subjektif yang berasal dari cara seseorang membuat pengertian terhadap objek-objek atau benda-benda melalui pengalamannya (setelah melakukan persepsi terhadap objek/benda).
3. Jenis penelitian dikelompokkan menurut: Tujuan, pendekatan, tingkat eksplanasi, dan analisis & jenis data.
   1. Penelitian Menurut Tujuan
    a. Penelitian Terapan adalah penelitian yang diarahkan untuk mendapatkan
       informasi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah.
    b. Penelitian Murni/Dasar adalah penelitian yang dilakukan diarahkan sekedar
       untuk memahami masalah dalam organisasi secara mendalam (tanpa ingin
       menerapkan hasilnya). Penelitian dasar bertujuan untuk mengembangkan teori
       dan tidak memperhatikan kegunaan yang langsung bersifat praktis. Jadi penelitian
       murni/dasar berkenaan dengan penemuan dan pengembangan ilmu.
    2. Penelitian Menurut Metode.
    a. Penelitian Survey
       Penelitian yang dilakukan pada popolasi besar maupun kecil, tetapi data
       yangdipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut,
       sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi dan hubungan-hubungan
       antar variabel sosilogis maupun psikologis.
    b. Penelitian Ex Post Facto
       Yaitu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi yang
       kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat
       menimbulkan kejadian tersebut.
    c. Penelitian Eksperimen
       Yaitu suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap
       variabel yang lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat. Variabel
       independennya dimanipulasi oleh peneliti.
   d.  Penelitian Naturalistic
       Metode penelitian ini sering disebut dengan metode kualitatif, yaitu metode
       penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek alami (sebagai
       lawannya) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Contoh : Sesaji
       terhadap keberhasilan bisnis.
   e.  Policy Reserach
       Yaitu suatu proses penelitian yang dilakukan pada, atau analisis terhadap
       masalah-masalah sosial yang mendasar, sehingga temuannya dapat
       direkomendasikan kepada pembuat keputusan untuk bertinak secara praktis dalam
       menyelesaikan masalah.
   f.  Action Research
       Merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan metode kerja yang
       paling efisien, sehingga biaya produksi dapat ditekan dan produktifitas lembaga
       dapat meningkat. Tujuan utama penelitian ini adalah mengubah: 1) situasi, 2)
       perilaku, 3) organisasi termasuk struktur mekanisme kerja, iklim kerja, dan
       pranata.
   g.  Penelitian Evaluasi
       Merupakan bagian dari proses pembuatan keputusan, yaitu untuk membandingkan
       suatu kejadian, kegiatan dan produk dengan standar dan program yang telah
       ditetapkan.
   h.  Penelitian Sejarah
       Berkenaan dengan analisis yang logis terhadap kejadian-kejadian yang
       berlangsung di masa lalu. Sumber datanya bisa primer, yaitu orang yang terlibat
       langsung dalam kejadian itu, atau sumber-sumber dokumentasi yang berkenaan
       dengan kejadian itu. Tujuan penelitian sejarah adalah untuk merekonstruksi
       kejadian-kejadian masa lampau secara sistematis dan obyektif, melalui
       pengumpulan, evaluasi, verifikasi, dan sintesa data diperoleh, sehingga ditetapkan
       fakta-fakta untuk membuat suatu kesimpulan.
    3. Penelitian Menurut Tingkat Eksplanasi
              Tingkat eksplanasi adalah tingkat penjelasan. Jadi penelitian menurut tingkat
     eksplanasi adalah penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta    hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain.
   a. Penelitian Deskriptif
       Adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik
       satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau
       penghubungan dengan variabel yang lain.
   b. Penelitian Komparatif
       Adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan. Variabelnya masih sama
       dengan penelitian varabel mandiri tetapi untuk sample yang lebih dari satu, atau
       dalam waktu yang berbeda.
      Penelitian Asosiatif/Hubungan
        Merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua
        variable atau lebih. Dengan penelitian ini maka akan dapat dibangun suatu teori
        yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol suatu
        gejala.
      4. Penelitian Menurut Jenis Data dan Analisis
        Jenis data dan analisisnya dalam penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua hal
utama yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang berbentuk
kata, kalimat, skema dan gambar. Data kuantitatif adalah data berbentuk angka atau data
kualitatif yang diangkakan (scoring).
 
ü      Kualitatif adalah penelitian yang butuh observasi, mendapatkan data melalui analisis
ü      Kuantitatif yaitu penelitian berupa angka, biasanya melalui angket atau data-data yang sudah ada
ü      Deskriptif merupakan penelitian yang lebih mendalam
ü      Grounded yaitu penelitian melalui pengalaman atau realitas, bukan teori
ü      Experimen adalah penelitian membuat percobaan biasannya melalui perbandingan antara dua kasus
ü      Studi kasus merupakan penelitian lebih mendalam dan utuh
ü      Survey yaitu penelitian tidak terlalumendalam hanya sekedar mengetahui
ü      Explanasi adalah merupakan kejelasan atau memperjelas suatu fenomena, menjelaskan hubungan, menguji pengaruh (hubungan sebab akibat)

Proses awal memilih masalah dalam penelitian yaitu dengan melihat fenomena-fenomena atau peristiwa-peristiwa masa lalu dan sedang terjadi, serta yang bakal terjadi yang berhubungan dengan maslah objek penelitian, yang dinilai menampakkan adanya penyimpangan yang memerlukan penelitian untuk menganalisis masalah, kemudian membatasi masalah.
Konsep adalah penggambaran suatu fenomena secara abstrak yang dibentuk dengan jalan membuat generalisasi terhadap sesuatu.
Contoh Konsep:
1.      Produktivitas, merupakan ukuran sejauh mana sumber-sumber daya digunakan dan dipadukan dalam organisasi dan digunakan untuk mencapai hasil.
2.      Efisiensi, merupakan perbandingan (ratio) antara tindakan-tindakan yang dilakukan (input) dengan hasil-hasil yang diperoleh (outpout).
3.      Gairah Kerja, merupakan suasana yang diciptakan oleh sikap-sikap para anggota suatu organisasi.
4.      Motivasi, merupakan suatu proses yang mendorong, mengarahkan dan memelihara perilaku manusia ke arah pencapaian suatu tujuan.
5.      Konflik Kerja, merupakan segala macam bentuk pertikaian yang terjadi dalam organisasi, baik antara seseorang dengan seseorang lainnya, antara seseorang dengan kelompok, antara kelompok dengan kelompok, maupun antara kelompok dengan organisasi atau mungkin antara perseorangan dengan organisasi atau mungkin antara perseorangan dengan organisasi secara keseluruhan.
Variabel adalah sebuah konsep (F. N. Kerlinger : Asas-asas Penelitian Behavioral, 1985); Gejala yang bervariasi (Sutrisno Hadi : Metodologi Research, 1973). Kesimpulan, variabel adalah konsep yang memiliki bermacam-macam nilai.
Contoh Variabel :
1.      Tingkat Produktivitas Kerja Karyawan di PT Baninusa Indonesia. (Ragam nilainya: Rendah – Sedang – Tinggi).
2.      Tingkat Efisiensi Kerja Wartawan di Perhimpunan Wartawan Indonesia Bandung.  (Ragam nilainya: Rendah – Sedang – Tinggi).
3.      Tingkat Gairah Kerja Karyawan pada Perusahaan Percetakan CV Buana Mekar Bandung.  (Ragam nilainya: Rendah – Sedang – Tinggi).
4.      Tingkat Motivasi Kerja Karyawan di CV Geger Sunten. (Ragam nilainya: Rendah – Sedang – Tinggi).
5.      Tingkat Konflik Kerja di PT POS Indonesia. (Ragam nilainya: Rendah – Sedang – Tinggi).

Friday, 19 August 2011

Keberadaan IPNU Dalam Membentengi Generasi Bangsa

Posted by Admin 13:32:00, under ,,, | No comments


IPNU IPPNU
Pemuda sebagai bagian dari warga negara Indonesia berfungsi melaksanakan penyadaran, pemberdayaan dan pengembangan potensi dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini pemuda juga diharapkan dapat berperan aktif sebagai kekuatan moral, konstrol social, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional.
IPNU adalah organisasi yang bersifat keterpelajaran, kekaderan, kemasyarakatan, kebangsaan dan keagamaam merupakan bagian dari Generasi Muda (Pemuda). IPNU berfungsi sebagai wadah berhimpun pelajar, santri dan mahasiswa yang mempunyai tugas untuk mengembangkan potensi dan kreatifitas pelajar serta menjadi pusat pembelajaran bagi generasi muda. Sebagai pelaksana kebijakan NU pada segmen muda sekaligus mensosialisasikan nilai dan ajaran Ahlussunnah wal jamaah dalam kehidupan sehari-hari.
IPNU sebagai bagian dari generasi muda bangsa, juga mempunyai tugas turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberikan pembelajaran solutif alternatif serta mengembangkan bakat dan keterampilan dalam mencapai pelajar, santri dan mahasiswa yang berkarakter.
Sejak awal berdirinya, IPNU telah berhasil mengisi ruang kosong yang menjadi pemisah antara pelajar di sekolah umum yang identik dengan “sekulerisme” dan santri pondok pesantren yang identik dengan kentalnya “pendidikan keagamaan”. Dikotomi Pelajar dan santri ini dapat dileburkan dengan kehadiran IPNU yang turut berperan aktif dalam pengembangan dunia pendidikan di Indonesia. Dengan  memberikan nilai-nilai Islam ahlussunnah wal jamaah di sekolah umum dan pengetahuan umum pada pendidikan di pesantren. Sehingga IPNU mampu menyeimbangkan pengembangan potensi intelektual dan spiritual individu pada generasi muda.
Globalisasi dan Modernisasi telah menepiskan identitas kultural dan idelogi yang mempengaruhi nilai-nilai dan perilaku individu, seperti berkembangnya kecenderungan materialisme dan konsumerisme di kalangan generasi muda. Kondisi pelajar hari ini telah terjerumas pada jurang yang dalam, banyak pelajar yang menjadi pecandu narkoba, pornografi, tawuran antar pelajar menjadi sajian “hangat” setiap hari di media masa.
Disisi lain, munculnya organisasi-organisasi ideologi yang menarik pemuda atau pelajar pada doktrin-doktrin ekslusif sehingga menyebabkan pergeseran nilai ideologis pada diri pelajar hingga terjebak pada tindakan-tindakan kekerasan yang mengatasnamakan kebenaran dalam hal ini “terorisme”. Sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat. Bukan hanya itu saja, NII sebagai aliran yang menyimpang jauh dari Ahlussunah Waljama’ah melakukan gerakan - gerakan yang pada akhirnya mencuci otak para pelajar dengan paham yang membelokkan dari islam.
Hal ini mengharuskan peran aktif pemuda salah satunya Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Timur sebagai organisasi yang concern terhadap pembinaan, pemberdayaan dan pengembangan potensi pelajar, santri dan mahasiswa untuk mengembalikan jatidiri pemuda Indonesia. Hal ini tentunya harus diiringi dengan berbagai langkah yang sistematik dan terarah. Disatu sisi, IPNU juga berusaha dalam meningkatkan mutu pengembangan SDM dan militansi pemuda, serta mengasah kecerdasan dan keterampilan dalam rangka membangun pemuda yang berkarakter menuju Indonesia bermartabat. Stmj.23/07/11

“RUNTUHNYA PERADILAN DI INDONESIA; Apa Perlu Masyarakat yang Mengadili?”

Posted by Admin 13:22:00, under ,,,, | No comments


Keadilan tak kunjung teratasi di negeri ini. Pengadilan menjadi terkesan hanya sekedar formalitas belaka. Lalu apa gunanya Pengadilan jika ketidakadilan itu malah tumbuh dari dalam gedung pengadilan?. Tidak sedikit hakim yang menerima suap untuk menutupi kesalahan yang seharusnya diselesaikan di  meja hijau. Mereka yang menduduki jabatan justru menjadikan sasaran sebagai ladang untuk meraup keuntugan atau uang tambahan. Meskipun motif dalam pemberian uang kepada hakim adalah sekedar ucapan terimakasih. Namun, itu sudah menyalahi aturan bahwa pejabat tidak diperbolehkan menerima uang apapun dari masyarakat. Lebih parah lagi mereka para petinggi memanfaatkan sistem yang berada dalam wilayah kekuasaannya sebagai sarana memperkaya diri dengan uang haram, uang yang seharusnya tidak menjadi hak milik yang akhirnya disebut dengan korupsi. Ironisnya, permainan suap-menyuap dan korupsi sudah terjadi mulai tingkat daerah hingga tingkat pemerintah.
Tertangkapnya hakim Syarifudin, salah satu hakim Bengkulu yang akhirnya difonis bebas oleh pengadilan. Memang tidak semua hakim bermasalah dalam menjalanankan tugasnya. Namun, penemuan beberapa kasus di lapangan menjadi salah satu sampel mala praktek di dalam gedung pengadilan, entah itu karena hakim yang sengaja melakukan pelanggaran ataukah memang hakim yang bodoh, tidak mengetahui aturan main secara benar dalam perhakiman. Pertanyaan besar jika kebodohan yang dijadikan alasan.
            Kasus terdahulu diusung oleh Gayus Tambunan sebagai tersangka korupsi, tidak tanggung-tanggung langsung uang pajak rakyat dilahap. Kemudian kasus masih hangat yang menjerat mantan bendahara partai Demokrat Nazarudin terkait suap pembangunan wisma atlet sea games. Mengatasi ini semua dimana peran konstitusi-konstitusi Negara ini? Mengapa menggilas dua orang itu saja tidak kunjung selesai?. Ketidakjelasan Konstitusi memunculkan dugaan-dugaan oleh masyarakat “apa mungkin terlalu banyak oknum yang terseret dalam kasus tersebut?! termasuk petinggi konstitusi, sehingga konstitusi yang seharusnya mempunyai wewenang untuk memberantas menjadi kerdil karena takut dia akan terseret juga”.
            Tidak salah jika masyarakat timbul pesrsepsi seperti itu, bisa jadi benar. Orang-orang memiliki kedudukan dalam tataran pemerntah sudah secara otomatis mengikuti sistem. Apabila berbicara masalah sistem maka satu dengan yang lainnya akan saling terkait dan itu pasti karena peran sistem memang demikian. Artinya, bahwa jika salah satu oknum bermasalah dalam suatu sistem maka itu tidak lepas dari oknum lainnya terutama yang berada di bawah dan di atasnya.
“Untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dalam sistem perlu mencari sumber permasalahan tersebut. Sedangkan permasalahan di Indonesia ini bersumber dari Mahkamah Konstitusi” tandas salah satu Ketua Komisi Hukum Nasional Bapak J.E Sahetapi. Dimana beliau pernah berdialog dengan Almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) “bahwa selagi Mahkamah Agung belum bersih dari koruptor maka akan merembet kebawah. Jika air di hulu masih kotor maka selama itu pula akan mengalir ke bawah”.
Kondisi seperti saat ini sangat memprihatinkan, jajaran tingkat paling atas saja sudah banyak masalah lantas bagaimana dengan bawahan? Tidak mungkin bawahan membuat kebijakan sendiri. Bagaimanapun juga bawah tetap mengikuti atas. Namun, atasan tidak bisa lagi dipercaya. Kemana keadilan Negara ini? Apa perlu masyarakat yang akan mengadili? Perlukah masyarakat sendiri yang menentukan kebijakan?. Stmj.26/07/11

“JANGAN AMBISI TERHADAP KEKUASAAN ATAU JABATAN”


Islam itu indah, demikian nama acara di salah satu stasiun televisi komersil. Tetapi keindahan itu akan terwujud jika kita mau melakukan berdasar petunjuk tekisnya. Hampir dalam semua segi kehidupan ini sudah tertera dalam islam baik tersurat maupn tersirat. Mulai dari hal paling kecil seperti bab makanan hingga hal yang palig besar yaitu Ibadah, urusan pribadi hingga urusan Negara dan mulai saat ini di dunia hingga sampai nanti di akhirat. Alangkah indah dan nikmatnya jika semua itu dapat kita lakukan sesuai dengan aturan yang sudah ada. Dari sini kita dapat mengambil suatu hikmah yang paling besar dari rutinitas orang islam disaat Negara kita Indonesia yang sedang mengalami krisis kepemimpinan, terutama dalam hal perebutan kekuasaan.
Sholat, itu adalah salah satu rutinitas yang wajib dilakukan orang islam sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Saat waktu sholat telah tiba umat muslim melaksanakan sholat dengan berjama’ah. Terdiri Imam (pemimpin sholat) dan makmum (para jama’ah). Untuk menjadi Imam sholat mempunyai kreteria yang harus dipenuhi antara lain Imam harus fasyih (bagus) ketika membaca ayat Al-qur’an, diutamakan yang lebih tua. Namun, ada keanehan saat memilih imam sholat ini yaitu meskipun ada orang yang membaca Al-qur’annya Fasyih akan tetapi tidak mau menjadi Imam “biar bapak saja yang menjadi Imam, monggo jenengan yang lebih tua”, “oh,, tidak nak, sampean aja yang menjadi Imam, suara dan ngajinnya kan bagus”. Akhirnya anak muda yang harus menjadi imam untuk berjama’ah.
Entah mengapa pada umumnya demikian ketika menjadi imam. Mereka berebut untuk tidak menjadi imam yang lebih melemparkan kepada orang yang sekiranya pantas. Hal ini berbanding terbalik ketika kekuasaan terbuka dan membutuhkan seorang pemimpin. Mereka para pejabat berlomba-lomba untuk dapat menempati kursi empuk, segala cara pun diakukannya. Bahkan orang yang sudah memiliki kedudukan pun mencoba utuk digulingkan sehingga fitnah dan ketidak jujuran semakin meracuni rohani masyarakat. Mulai dari lobi-melobi hingga suap menyuap yang pada akhirnya menuntut untuk ganti rugi atas banyaknya uang yang dikeluarkan, jalan korupsipun ditempuh.
            Hadits sendiri telah menegaskan tentang larangan untuk merebut kedudukan dan sangat menginginkannya. Yang artinya : “Abdurrahman bin Samurah r.a. berkata: Nabi SAW. Bersabda: Ya, Abdurrahman bin Samurah, engkau jangan melamar (meminta) jabatan (pimpinan) sebab jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu maka akan diserahkan kepadamu seratus persen, sebaiknya jika jabatan itu diserahan kepadamu bukan karena permintaanmu maka akan dibantu untuk mengatasinya” (Bukhori Muslim)  
            Banyak para pejabat yang lari dari tanggung jawab karena merasa tidak mampu menyelesaikan masalahnya. Akhirnya Negara sebelah yang menjadi tujuan pelariannya. Siapa yang tidak kenal Gayus dan Nazarudin, mereka merupakan potret seorang pejabat yang niat awal menjadi pejabat berbanding terbalik dengan hadits di atas. Mereka berangkat dari ambisi untuk memperoleh kedudukan sehingga seratus persen tanggung jawab itu ditanggungnya, baik pribadi maupun kelompok. Stmj.24/07/11