Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Tuesday, 16 September 2014

Nabung 24 tahun tukang sapu naik haji

Posted by Admin 06:29:00, under ,,,, | No comments


Tukang Sapu nabung 24thn, Bapak Ugan Suganda naik haji 27/9/2014

Bapak Ugan Suganda adalah seorang kepala rumah tangga yang berusia sekitar 50 tahun. Dari pernikahannya dengan seorang perempuan bernama Aminah beliau memiliki 5 anak yakni anak pertama laki-laki, kedua dan ketiga perempuan, terakhir laki-laki.

Aktifitas sehari-hari pak Ugan yaitu sebagai tukang kebersihan disalah satu sekolah dimana ia tinggal, hal itu beliau tekuni Selama 32tahun. Berkat ketekunan dan kerja keras Pak Ugan, akhirnya beliau diberi ijin untuk mendirikan toko kecil-kecilan yang setiap hari dijaga oleh sang istri.

Dari hasil keringat membersihkan halaman sekolah, pak ugan mendapat gaji Rp.600.000 tiap bulan. Sedangkan laba dari hasil jualan rata-rata Rp.500.000-Rp.700.000. Bila ditotal pendapatan keluarga pak Ugan antara Rp.1.000.000 s/d Rp.1.300.000. Gaji yang sangat sedikit untuk keluarga yang memiliki 5orang anak.

Dibalik semua itu ternyata pak ugan menyimpan niat suci untuk dapat berangkat haji bersama sang istri. Demi mewujudkan impian akhirnya gaji hasil menyapu selama 1 bulan ditabung oleh pak Ugan. Bayangkan total penghasilan selama 1 bulan hanya Rp.1.300.000 dikurangi tabungan haji Rp.600.000 sisa Rp.700.000 untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Walhasil.. dari jerih payah pak Ugan menabung selama 24tahun, pak Ugan akan berangkat haji tanggal 9 September 2014.

Bukan hanya itu perjuangan seorang Ugan Suganda, bapak 5anak ini menyekolahkan anak pertamanya hingga jenjang sarjana Universitas Indonesia (UI) salah satu kampus ternama di Indonesia. Sangat sulit dinalar dengan penghasilan Rp.700.000 mampu mengantarkan anak pertama kuliah dan anak-anaknya sekolah hingga jenjang SMA. Subhanallah.. itukah yang dinamakan keluarga sakinah dan rizki yang barokah? Istri yang tidak pernah mengeluh kekurangan belanja dan penghasilan yang tidak dapat dinalar.

Nasehat dalam kisah tersebut adalah pertama, pandai-pandailah dalam mensyukuri nikmat, syukur bukan hanya di lisan lewat kalimat “Alhamdulillah” tetapi sabar akan kepastian Allah dalam membagi rizki. Kedua, apabila memiliki niat yang suci, selagi niat kita baik dimata Allah SWT maka yakinlah bahwa Allah SWT akan memberikan jalan dan mengabulkannya. ISTIQOMAH.. ISTIQOMAH… dan ISTIQOMAH…
Semoga bermanfaat (stmj)

Sumber: Tayangan Hitam-Putih, 16/09/2014

Tuesday, 20 September 2011

LIMA KAIDAH DALAM MENENTUKAN KEBIJAKAN POLITIK

Posted by Admin 18:47:00, under ,,,, | No comments


Ø Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan hokum terjauhi karena perubahan zaman.
Menurut kaidah ini bahw peraturan dalam undang-undang maupun kebijakan harus sesuai dengan perkembangan zaman. Sperti halnya duu sebelum tahun 90-an belum ada computer, kemudian sekarag teknologi dapat kita temukan dimana-mana. Misalnya dalam konteks Indonesia, ada sebagian pasal dalam undang-undang yang tidak mencerminkan sifat perkembangan zaman sehingga harus diamandemen. Di antaranya masa jabatan peresiden cenderung bersifat karet yang seakan-akan tak hentinya memiliki otoritas. Sesuai dengan tuntutan masyarakat maka DPR sebagai lembaga perwakilan rakyat, jabatan presiden hanya dua periode.

Ø  Tidakan Imam (Kepala Negara) atas rakyatnya harus sesuai dengan kemaslahatan.
Apapun kebijakan emerintah harus memperhatikan aspirasi rakyatnya.
Contoh : pemerintah tidak boleh menangangkat seseorang untuk menempati jabatan tertentu yang bukan bidangnya, apalagi haya berdasarkan kedekatan hubungan (nepotisme). Di sini pemerintah harus professional dengan menempatkan seseorang sesuai dengan keahlianya.

Ø  Adat kebasaan dalam suatu masyarakat dapat dijadikan sebagai hokum
Hokum yang dilaksanakan adalah sesuai dengan kebiasaan masyarakat. Seperti, kebiasaan memberi hadiah kepada pejabat itu boleh-boleh saja meskipun ha ini diperbolehkan maka pemerintah harus mencegah karena member peluang untuk terjadinya suap, korupsi dan manipulasi.

Ø  Menhindari bahaya harus lebih diutamakan dari meraih manfaat.
Dalam hal ini pemerintah harus membuat ndang-undang skala prioritas. Kalau dalam dua permasalahan terdapat pertentangan, di satu sisi menguntugkan dan di sisi lain menimbulkan bahaya, maka yang harus didahulukan adal prinsip menghindari bahaya. Contoh, tentag pengiriman TKI ke luar negri merupakan sumeber keuangan yag tentu saja bermanfaat untuk keuangan Negara. Namun, melihat kenyataan nasib para TKW tersebut mengenaskan dan memprihatinkan secara tidak manusiawi, serta tidak mendapat perlindungan huku dari negeri orang, maka pemerintah harus meninjau kembali kebijakan tentang pengiriman TKW ke luar negeri.

Ø  Kemaslahatan umum yang lebih luas harus diutamakan atas kemaslahatan yang khusus (golongan atau kelompok tertentu).
Untuk melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas, pemerintah harus bersikap tegas menghukum berat, seperti ukuman terhadap pengedar dan pemakai narkotika dan obat-obatan terarang lainya. Karena memerhatikan dan menyelamatkan ribuan nyawa bahkan jutaan manusia dari pengaruh narkotika, lebih maslahat dari pada segelintir nyawa pengedarnya.

Ali Ahmad Al Nadw, Al Qowa’id Al Fiqhiyah, (Damaskus, Dar Al Qalam 1994) hal.65

Drs. Muhammad Iqbal, M.Ag. Fiqih Siyasah; Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam. (Jakarta: 2001). Gaya Media Pratama.

Friday, 19 August 2011

“JANGAN AMBISI TERHADAP KEKUASAAN ATAU JABATAN”


Islam itu indah, demikian nama acara di salah satu stasiun televisi komersil. Tetapi keindahan itu akan terwujud jika kita mau melakukan berdasar petunjuk tekisnya. Hampir dalam semua segi kehidupan ini sudah tertera dalam islam baik tersurat maupn tersirat. Mulai dari hal paling kecil seperti bab makanan hingga hal yang palig besar yaitu Ibadah, urusan pribadi hingga urusan Negara dan mulai saat ini di dunia hingga sampai nanti di akhirat. Alangkah indah dan nikmatnya jika semua itu dapat kita lakukan sesuai dengan aturan yang sudah ada. Dari sini kita dapat mengambil suatu hikmah yang paling besar dari rutinitas orang islam disaat Negara kita Indonesia yang sedang mengalami krisis kepemimpinan, terutama dalam hal perebutan kekuasaan.
Sholat, itu adalah salah satu rutinitas yang wajib dilakukan orang islam sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Saat waktu sholat telah tiba umat muslim melaksanakan sholat dengan berjama’ah. Terdiri Imam (pemimpin sholat) dan makmum (para jama’ah). Untuk menjadi Imam sholat mempunyai kreteria yang harus dipenuhi antara lain Imam harus fasyih (bagus) ketika membaca ayat Al-qur’an, diutamakan yang lebih tua. Namun, ada keanehan saat memilih imam sholat ini yaitu meskipun ada orang yang membaca Al-qur’annya Fasyih akan tetapi tidak mau menjadi Imam “biar bapak saja yang menjadi Imam, monggo jenengan yang lebih tua”, “oh,, tidak nak, sampean aja yang menjadi Imam, suara dan ngajinnya kan bagus”. Akhirnya anak muda yang harus menjadi imam untuk berjama’ah.
Entah mengapa pada umumnya demikian ketika menjadi imam. Mereka berebut untuk tidak menjadi imam yang lebih melemparkan kepada orang yang sekiranya pantas. Hal ini berbanding terbalik ketika kekuasaan terbuka dan membutuhkan seorang pemimpin. Mereka para pejabat berlomba-lomba untuk dapat menempati kursi empuk, segala cara pun diakukannya. Bahkan orang yang sudah memiliki kedudukan pun mencoba utuk digulingkan sehingga fitnah dan ketidak jujuran semakin meracuni rohani masyarakat. Mulai dari lobi-melobi hingga suap menyuap yang pada akhirnya menuntut untuk ganti rugi atas banyaknya uang yang dikeluarkan, jalan korupsipun ditempuh.
            Hadits sendiri telah menegaskan tentang larangan untuk merebut kedudukan dan sangat menginginkannya. Yang artinya : “Abdurrahman bin Samurah r.a. berkata: Nabi SAW. Bersabda: Ya, Abdurrahman bin Samurah, engkau jangan melamar (meminta) jabatan (pimpinan) sebab jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu maka akan diserahkan kepadamu seratus persen, sebaiknya jika jabatan itu diserahan kepadamu bukan karena permintaanmu maka akan dibantu untuk mengatasinya” (Bukhori Muslim)  
            Banyak para pejabat yang lari dari tanggung jawab karena merasa tidak mampu menyelesaikan masalahnya. Akhirnya Negara sebelah yang menjadi tujuan pelariannya. Siapa yang tidak kenal Gayus dan Nazarudin, mereka merupakan potret seorang pejabat yang niat awal menjadi pejabat berbanding terbalik dengan hadits di atas. Mereka berangkat dari ambisi untuk memperoleh kedudukan sehingga seratus persen tanggung jawab itu ditanggungnya, baik pribadi maupun kelompok. Stmj.24/07/11

“TEKNOLOGI BESEBRANGAN DENGAN KONSEPSI FIQIH SIYASAH, PEMERINTAH?;Yang salah teknologi, fiqih siyasah atau pemerintah?”


Kontribusi teknologi dalam pembentukan karakter bangsa sangatlah besar. Entah itu karakter positif atau karakter negativ hampir dapat dipastikan secara rill melalui kecanggihan teknologi. Tidak ada kata sulit melalui teknologi ciptaan manusia ini. Karena memang tujuan teknologi diciptakan manusia untuk mempermudah manusia dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Perkembangan teknologi tidak dapat dipungkiri apalagi di hindari. Teknologi sudah menjadi rahasia publik yang seakan-akan wajib bagi setiap orang untuk menggunakan alat-alat serba canggih. Betapa tidak? Hampir dari peralatan-peralatan terkecil dalam dapur hingga alat kantor, alat rumah tangga hingga Negara sudah mengikuti tren zaman dengan alat teknlogi yang sehingga menuntut masyarakat untuk memanfaatkan aat tersebut. Bahkan sudah menjadi suatu persepsi dalam masyarakat “jaman gini masih gaptek (gagap teknologi)? basi”.
            Banyak manfaat yang didapat dengan adanya alat-alat serba canggih, pekerjaan lebih cepat dan efisien sehingga menghemat tenaga. Petani seharusnya memakan waktu dua hari ketika panen, dengan alat teknologi kini cukup memerlukan waktu sehari untuk menyelesaikan tugas puluhan hektar. Ingin pergi ke suatu tempat cukup pegang setir, nyalakan mesin, tancap gas dan puluhan kilo meter dapat terlewati dengan hitungan jam bahkan detik. Jarak tidak lagi menjadi penghalang dalam berkomunikasi, tinggal tekan beberapa tombol saja sudah dapat ngobrol dengan orang dibelahan dunia sekalipun.
            Namun, satu sisi teknologi juga memiliki dampak yang negativ. Hal ini mengingatkan saya pada kata-kata yang pernah terucap dari paman Band (paman Peater dalam film spederman) “seiring dengan kekuatan besar, akan ada tanggung jawab besar”. Hampir senada dengan “seiring banyaknya sisi positif, sering itu pula banyaknya sisi negatif dari teknologi”. Tentunya masyarakat juga harus melihat luar biasannya dampak negativ yang ditimbukan oleh teknologi. Bahkan saya berani mengatakan “teknlogi dapat membunuh karakter bangsa secara perlahan yang nantinya berujung pada ketragisan yang sangat luar biasa terhadap generasi bangsa”. Hal itu tidak akan terjadi selama diimbangi dengan penanaman moral terhadap masyarakat sedini mungkin sebagai benteng kepribadian masing-masing.
            Tayangan televisi hampir stiap hari menyuguhkan berita-berita kriminal akibat menggunakan teknologi. Mulai pembunuhan, perampokan, pemerkosaan hingga perlawanan terhadap aparat yang dilakukan oleh para teroris. Ironis lagi, bahwa sistem pendidikan yang mempunyai peran sangat penting dalam proses pembentukan pribadi yang unggul malah memberi contoh yang tidak layak lagi. Seperti kasus yang baru saja terjadi menjelang pendaftaran siswa baru baik tingkat SD, SLTA, SLTP maupun Perguruan Tinggi menuai kecurangan dalam seleksi calon murid. Mereka para siswa yang daftar melalui jejaring social internet atau sistem On Line malah merasa tertipu. Dampak negativ bukan hanya itu saja, tetapi pada sikologis anak. Reaserch terkahir Juli 2011 menemukan bahwa main game On Line dapat menimbulkan sifat individualis yang tidak suka dengan kebersamaan. Jika seluruh lapisan masyarakat tidak menyadari akan dampak negativ oleh teknologi. Maka secara perlahan teknologi akan meracuni otak-otak generasi bangsa.
            Melihat kondisi masyarakat dengan pengaruh teknologi saat ini sangat memprihatinkan. Dimanakah peran pemerintah sebagai pemegang kebijakan?. Memang diakui atau tidak jika masyarakat atau pemerintah tidak dapat mencegah berkembanganya teknologi demi mengantisispasi kerusakan moral yang lebih parah. Meskipun demikian, pemerintah masih tetap punya andil dalam pemanfaatan teknologi. Keadaan sepertinya sudah bertentangan dengan kosep pembentukan Negara. Dalam bukunya Muhammad Iqbal (2001) “Fiqih Siyasah” menjelaskan bahwa konsep pembentukan Negara Ideal ada lima, yang salah satunya adalah “Menghindari bahaya harus lebih diutamakan daripada meraih manfaat”. Membandingkan konsep Muhammad Iqbal dengan realitas penggunaan teknologi saat ini seakan-akan lebih mengutamakan manfaat daripada bahaya yang ditimbulkan teknologi. Manakah yang benar dan yang salah? Teknologi, Fiqih Siyasah atau Pemerintah? sebagai pemegang kebijakan. Stmj.25/07/11

Sunday, 9 January 2011

Amal Tetap Bermakna

Posted by Admin 01:31:00, under ,,, | No comments

        Berhati-hatilah bagi orang-orang yang ibadahnya temporal, karena bisa jadi perbuatan tersebut merupakan tanda-tanda keikhlasannya belum sempurna. Karena aktivitas ibadah yang dilakukan secara temporal tiada lain, ukurannya adalah urusan duniawi. Ia hanya akan dilakukan kalau sedang butuh, sedang dilanda musibah, atau sedang disempitkan oleh ujian dan kesusahan. Bagi yang amalnya temporal, ketika menjelang pernikahan tiba-tiba saja ibadahnya jadi meningkat, shalat wajib tepat waktu, tahajud nampak khusyuk, tapi anehnya ketika sudah menikah, jangankan tahajud, shalat subuh pun terlambat. Ini perbuatan yang memalukan. Sudah diberi kesenangan, justru malah melalaikan perintah-Nya. Harusnya sesudah menikah berusaha lebih gigih lagi dalam ber-taqarrub kepada Allah swt. sebagai bentuk ungkapan rasa syukur.
         Ketika berwudhu, misalnya, ternyata di samping ada seorang ulama yang cukup terkenal dan disegani, wudhu kita pun secara sadar atau tidak tiba-tiba dibagus-baguskan. Lain lagi ketika tidak ada siapa pun yang melihat, wudhu kitapun kembali dilakukan dengan seadanya dan lebih dipercepat.
         Atau ketika menjadi imam shalat, bacaan Quran kita kadangkala digetar-getarkan atau sedih-sedihkan agar orang lain ikut sedih. Tapi sebaliknya ketika shalat sendiri, shalat kita menjadi kilat, padat, dan cepat. Kalau shalat sendirian dia begitu gesit, tapi kalau ada orang lain jadi kelihatan lebih bagus. Hati-hatilah bisa jadi ada sesuatu dibalik ketidakikhlasan ibadah-ibadah kita ini. Karenanya kalau melihat amal-amal yang kita lakukan jadi melemah kualitas dan kuantitasnya ketika diberi kesenangan, maka itulah tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beramal.
          Hal ini berbeda dengan hamba-hamba- Nya yang telah menggapai maqam ikhlas, maqam dimana seorang hamba mampu beribadah secara istiqamah dan terus-menerus berkesinambungan. Ketika diberi kesusahan, dia akan segera saja bersimpuh sujud merindukan pertolongan Allah swt. Sedangkan ketika diberi kelapangan dan kesenangan yang lebih lagi, justru dia semakin bersimpuh dan bersyukur lagi atas nikmat-Nya ini.
          Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas beramalnya dalam kondisi ada atau tidak ada orang yang memperhatikannya adalah sama saja. Berbeda dengan orang yang kurang ikhlas, ibadahnya justru akan dilakukan lebih bagus ketika ada orang lain memperhatikannya, apalagi bila orang tersebut dihormati dan disegani
          Sungguh suatu keberuntungan yang sangat besar bagi orang-orang yang ikhlas ini. Betapa tidak? Orang-orang yang ikhlas akan senantiasa dianugerahi pahala, bahkan bagi orang-orang ikhlas, amal-amal mubah pun pahalanya akan berubah jadi pahala amalan sunah atau wajib. Hal ini akibat niatnya yang bagus.
           Maka, bagi orang-orang yang ikhlas, dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali ia kemas niatnya lurus kepada Allah swt. saja. Kalau hendak duduk di kursi diucapkannya, “Bismilahirrahmanir rahiim, ya Allah..semoga aktivitas duduk ini menjadi amal kebaikan”. Lisannya yang bening senantiasa memuji Allah swt. atas nikmatnya berupa karunia bisa duduk sehingga ia dapat beristirahat menghilangkan kepenatan. Jadilah aktivitas duduk ini sarana taqarrub kepada Allah swt..
         Kedahsyatan lain dari seorang hamba yang ikhlas adalah akan memperoleh pahala amal, walaupun sebenarnya belum menyempurnakan amalnya, bahkan belum mengamalkannya. Inilah istimewanya amalan orang yang ikhlas. Suatu saat hati sudah meniatkan mau bangun malam untuk tahajud, “Ya Allah… saya ingin tahajud, bangunkan jam 03.30 ya Allah..”. Weker pun diputar, istri diberi tahu, “Mah, kalau mamah bangun duluan, bangunkan Papah. Jam setengah empat kita akan tahajud. Ya Allah.. saya ingin bisa bersujud kepadamu di waktu ijabahnya doa”. Berdoa dan tidurlah ia dengan tekad bulat akan bangun tahajud.
         Sayangnya, ketika terbangun ternyata sudah azan subuh. Bagi hamba yang ikhlas, justru dia akan gembira bercampur sedih. Sedih karena tidak kebagian shalat tahajud dan gembira karena ia masih kebagian pahalanya. Bagi orang yang sudah berniat untuk tahajud dan tidak dibangunkan oleh Allah swt., maka kalau ia sudah bertekad, Allah swt. pasti akan memberikan pahalanya. Mungkin Allah swt. tahu, hari-hari yang kita lalui akan menguras banyak tenaga. Allah swt. Mahatahu apa yang akan terjadi, juga Mahatahu bahwa kita mungkin telah defisit energi karena kesibukan kita terlalu banyak. Hanya Allah swt-lah yang menidurkan kita dengan pulas.
          Sungguh apapun amal yang dilakukan seorang hamba yang ikhlas akan tetap bermakna, akan tetap bernilai, dan akan tetap mendapatkan balasan pahala yang setimpal. Subhanallah.
***
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]

“PEMIKRAN PLATO TENTANG NEGARA”

Posted by Admin 01:10:00, under ,,, | No comments

A. Tentang Ide
       Diantara pemikiran Plato yang terpenting adalah teorinya tentang ide-ide, yang merupakan upaya permulaan yang mengkaji masalah tentang universal yang hingga kini pun belum terselesaikan. Teori ini sebagian bersifat logis, sebagian lagi bersifat metafisis. Dengan pendapatnya tersebut, menurut Kees Berten (1976), Plato berhasil mendamaikan pendapatnya Heraklitus dengan pendapatnya Permenides, menurut Heraklitus segala sesuatu selalu berubah, hal ini dapat dibenarkan menurut Plato, tapi hanya bagi dunia jasmani (Pancaindra), sementara menurut Permenides segala sesuatu sama sekali sempurna dan tidak dapat berubah, ini juga dapat dibenarkan menurut Plato, tapi hanya berlaku pada dunia idea saja.
         Plato menjelaskan bahwa, “dunia fisik yang kita rasakan dengan indera adalah suatu kedaan yang terus menerus berubah. Sebaliknya, realitas universal ide-ide yang kita sadari dengan pikiran adalah sesuatu yang berubah dan bersifat abadi. Masing-masing bentuk seperti bulat, lelaki, warna, indah, dan sebagainya menyerupai semacam pola bagi objek tertentu di dunia. Dengan kata lain, objek tertentu di dunia adalah salinan yang tidak sempurna dan selalu berubah dari ide universal yang abadi.” Jika ada sejumlah individu memiliki nama yang sama, mereka tentunya juga memiliki satu "ide" atau "forma" bersama. Sebagai contoh, meskipun terdapat banyak ranjang, sebetulnya hanya ada satu "ide" ranjang. Sebagaimana bayangan pada cermin hanyalah penampakan dan tidak "real". Demikian pula pelbagai ranjang partikular pun tidak real, dan hanya tiruan dari "ide", yang merupakan satu-satunya ranjang yang real dan diciptakan oleh Tuhan. Mengenai ranjang yang satu ini, yakni yang diciptakan oleh Tuhan, kita bisa memperoleh pengetahuan, tetapi mengenai pelbagai ranjang yang dibuat oleh tukang kayu, yang bisa kita peroleh hanyalah opini.
         Perbedaan antara pengetahuan dan opini menurut Plato adalah, bahwa orang yang memiliki pengetahuan berarti memiliki pengetahuan tentang "sesuatu", yakni "sesuatu" yang eksis, sebab yang tidak eksis berarti tidak ada. Oleh karena itu pengetahuan tidak mungkin salah, sebab secara logis mustahil bisa keliru. Sedangkan opini bisa saja keliru, sebab opini tidak mungkin tentang apa yang tidak eksis, sebab ini mustahil dan tidak mungkin pula tentang yang eksis, sebab ini adalah pengetahuan. Dengan begitu opini pastilah tentang apa yang eksis dan yang tidak eksis sekaligus. Maka kita dapat menartik pengertian bahwa opini adalah tentang dunia yang tampil pada indera, sedangkan pengetahuan adalah tentang dunia abadi yang supra-inderawi; sebagai misal, opini berkaitan dengan benda-benda partikular yang indah, sementara pengetahuan berkaitan dengan keindahan itu sendiri.
         Kemudian jika kita kaitkan dengan perkembangan suatu masyarakat dalam negara menurut pemikiran Platao di atas bahwa, segala sesuatu di dunia ini yang terlihat oleh mata akan mengalami perubahan, yang tidak berubah adalah ide. Nah, yang tidak berubah adalah “Negara” itu sendiri yang dapat kita jadikan suatu pengetahuan, sedangkan yang berubah adalah structural pemerintahan seperti (monarkhi, hierarkhi, maupun demokrasi) yang dibuat oleh para penguasa pemerintahan yang bisa kita peroleh adalah opini. Karena opini, maka belum tentu benar. Misal Negara Indonesia ini belum tentu cocok dengan bentuk negara yang demokrasi ada kemungkinan pasti suatu saat nanti akan berubah dan seterusnya, Padahal sebenarnya adalah hanya satu negara yaitu Negara Indonesia (ini yang dinamakan ide menurut Plato mengenai suatu negara).
B. Tiga Gelombang Pemikiran Plato
         Dari seluruh beah pikiran yang dipersembahkan Plato bagi pembangunan Negara Ideal, ada tiga pokok fikiran yang merupakan gelombang yang saling susul-menyusul dan yang dikatakanya bahwa yang di belakang lebih besar daripada yang telah mendahuluinya.
1. Gelombang pertama (The First Wave)
         Gelombang pertama menurut plato ialah bahwa pria dan wanita itu sama, oleh sebab itu harus memperoleh kesempatan yang sama, terutama dalam pendidikan dan pekerjaan. Plato mengatakan secara alamiah wanita dapat berperan dlam seluruh kegiatan yang dilakukan manusia, sama dan seimbang dengan peran pria. Namun perlu diketahui bahwa kendati Plato memperjuangkan kesamaan pria dan wanita Sebagaimana gerakan emansipasi kaum wanita yang muncul sejak abad kesembilan belas, tetapi motivasinya berbeda. Plato melihat selama ini tenaga wanita tidak dimanfaatkan dengan baik dan disia-siakan begitu saja, sedangkan dipihak lain pria harus menghidupi keluarga dan negara. Bagi plato itu tidak adil dan harus dirubah dengan memanfaatkan tenaga yang sia-sia.
2. Gelombang Kedua (The Secound Wave)
         Apa yang dimaksud gelombang kedua adalah gagasannya untuk menghapus perkawinan dalam keluarga demi membentuk satu keluarga yang besar, yakni Negara, sehingga semua orang “bersaudara dalam negara.” Palto mengatakan bahwa alangkah baiknya jika seorang pria tidak memiliki seorang istri, sehingga semua wanita adalah untuk pria dan semua pria adalah untuk semua wanita dan demikian semua anak adalah unt7uk semua orang tua agar tidak seorangpun mengetahui siapa anak dan orang truanya. Dengan dmikian jika satu orang bertemu di Jalan maka dia akan menyapa sebagai saudaranya.
         Tujuan Plato yang pertama adalah dengan tirciptanya suatu negara dalam satu keluarga, maka ketuhanan dan kesatuan negara akan terjamin berdasarkan ikatan kasih persaudaraan yang merupakan ikatan yang amat kokoh. Kedua, untuk meningkatkan loyalitas dan dedikasi kepada negara, Apabila perkawinan dan keluarga dihapuskan maka tidak seorangpun akan direpotkan dengan tetek bengek keluarga. Ketiga, pengendalian jumlah pendududk..
3. Gelombang Ketiga (The Third Wave)
          Gelombagng ketiga menurut Plato adalah gagasan mengenai Filsuf-raja. Plato mengatakan para raja di negara yang ideal adalah para filsuf. Hanya apabiola para filsuf menjadi penguasa, yaitu jika kekuasaan politik dan kecerdasan serta pengetahuan yang tinggi menyatu di tangan para cendikiawan, barulah negara akan dapat dipimpin dengan nikmat dan kearifan sejati (true wisdom). “Filsuf adalah pecinta kebijaksanaan”. Selain pengetahuan yang tinggi, p[aling tidak mempunyai tujuh identitas filsuf.
1) Mereka senantiasa gemar akan pengetahuan
2) Pecinta segalayang mulia
3) Filsuf sejati senantiasa hidup dalam cinta kasih
4) Cinta akan kebenaran
5) Mengrjar kesenangan jiwa dan bukan kesenangan dan kenikmatan jasmani
6) Pengendalian diri
7) tidak picik dan tidak jahat
C. Kesimpulan
          Dari pembahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa, negara menurut Plato itu dapat berubah dalam hal bentuk misalnya bentuk negara monarkhi, hierarkhi, maupun demokrasi, yang tidak berubah adalah esensi “Negara” iotu sendiri. Ini mengikuti dasar pemikiran Plato yaitu “segala sesuatu di dunia ini yang terlihat oleh mata akan mengalami perubahan, yang tidak berubah adalah ide.” Sedangkan ide di sini adalah sebagai pengetahun dan yang tampak oleh fisik adalah opini, yang namanya opini itu adalah belum tentu benar. Dengan demikian setiap bentuk negara yang di terapkan dalam suatu negar itu berpotensi untuk berubah mengikuti zaman.
           Kemudian untuk membentuk nmegara yang ideal menurut Plato ada tiga gelombang pemikiran yang saling bekaitan, yaitu: Gelombang pertama menurut plato ialah bahwa pria dan wanita itu sama, oleh sebab itu harus memperoleh kesempatan yang sama, terutama dalam pendidikan dan pekerjaan. Gelombang kedua adalah gagasannya untuk menghapus perkawinan dalam keluarga demi membentuk satu keluarga yang besar, yakni Negara, sehingga semua orang “bersaudara dalam negara”. Gelombagng ketiga menurut Plato adalah gagasan mengenai Filsuf-raja. Plato mengatakan para raja di negara yang ideal adalah para filsuf.