Friday, 19 August 2011

“TEKNOLOGI BESEBRANGAN DENGAN KONSEPSI FIQIH SIYASAH, PEMERINTAH?;Yang salah teknologi, fiqih siyasah atau pemerintah?”


Kontribusi teknologi dalam pembentukan karakter bangsa sangatlah besar. Entah itu karakter positif atau karakter negativ hampir dapat dipastikan secara rill melalui kecanggihan teknologi. Tidak ada kata sulit melalui teknologi ciptaan manusia ini. Karena memang tujuan teknologi diciptakan manusia untuk mempermudah manusia dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Perkembangan teknologi tidak dapat dipungkiri apalagi di hindari. Teknologi sudah menjadi rahasia publik yang seakan-akan wajib bagi setiap orang untuk menggunakan alat-alat serba canggih. Betapa tidak? Hampir dari peralatan-peralatan terkecil dalam dapur hingga alat kantor, alat rumah tangga hingga Negara sudah mengikuti tren zaman dengan alat teknlogi yang sehingga menuntut masyarakat untuk memanfaatkan aat tersebut. Bahkan sudah menjadi suatu persepsi dalam masyarakat “jaman gini masih gaptek (gagap teknologi)? basi”.
            Banyak manfaat yang didapat dengan adanya alat-alat serba canggih, pekerjaan lebih cepat dan efisien sehingga menghemat tenaga. Petani seharusnya memakan waktu dua hari ketika panen, dengan alat teknologi kini cukup memerlukan waktu sehari untuk menyelesaikan tugas puluhan hektar. Ingin pergi ke suatu tempat cukup pegang setir, nyalakan mesin, tancap gas dan puluhan kilo meter dapat terlewati dengan hitungan jam bahkan detik. Jarak tidak lagi menjadi penghalang dalam berkomunikasi, tinggal tekan beberapa tombol saja sudah dapat ngobrol dengan orang dibelahan dunia sekalipun.
            Namun, satu sisi teknologi juga memiliki dampak yang negativ. Hal ini mengingatkan saya pada kata-kata yang pernah terucap dari paman Band (paman Peater dalam film spederman) “seiring dengan kekuatan besar, akan ada tanggung jawab besar”. Hampir senada dengan “seiring banyaknya sisi positif, sering itu pula banyaknya sisi negatif dari teknologi”. Tentunya masyarakat juga harus melihat luar biasannya dampak negativ yang ditimbukan oleh teknologi. Bahkan saya berani mengatakan “teknlogi dapat membunuh karakter bangsa secara perlahan yang nantinya berujung pada ketragisan yang sangat luar biasa terhadap generasi bangsa”. Hal itu tidak akan terjadi selama diimbangi dengan penanaman moral terhadap masyarakat sedini mungkin sebagai benteng kepribadian masing-masing.
            Tayangan televisi hampir stiap hari menyuguhkan berita-berita kriminal akibat menggunakan teknologi. Mulai pembunuhan, perampokan, pemerkosaan hingga perlawanan terhadap aparat yang dilakukan oleh para teroris. Ironis lagi, bahwa sistem pendidikan yang mempunyai peran sangat penting dalam proses pembentukan pribadi yang unggul malah memberi contoh yang tidak layak lagi. Seperti kasus yang baru saja terjadi menjelang pendaftaran siswa baru baik tingkat SD, SLTA, SLTP maupun Perguruan Tinggi menuai kecurangan dalam seleksi calon murid. Mereka para siswa yang daftar melalui jejaring social internet atau sistem On Line malah merasa tertipu. Dampak negativ bukan hanya itu saja, tetapi pada sikologis anak. Reaserch terkahir Juli 2011 menemukan bahwa main game On Line dapat menimbulkan sifat individualis yang tidak suka dengan kebersamaan. Jika seluruh lapisan masyarakat tidak menyadari akan dampak negativ oleh teknologi. Maka secara perlahan teknologi akan meracuni otak-otak generasi bangsa.
            Melihat kondisi masyarakat dengan pengaruh teknologi saat ini sangat memprihatinkan. Dimanakah peran pemerintah sebagai pemegang kebijakan?. Memang diakui atau tidak jika masyarakat atau pemerintah tidak dapat mencegah berkembanganya teknologi demi mengantisispasi kerusakan moral yang lebih parah. Meskipun demikian, pemerintah masih tetap punya andil dalam pemanfaatan teknologi. Keadaan sepertinya sudah bertentangan dengan kosep pembentukan Negara. Dalam bukunya Muhammad Iqbal (2001) “Fiqih Siyasah” menjelaskan bahwa konsep pembentukan Negara Ideal ada lima, yang salah satunya adalah “Menghindari bahaya harus lebih diutamakan daripada meraih manfaat”. Membandingkan konsep Muhammad Iqbal dengan realitas penggunaan teknologi saat ini seakan-akan lebih mengutamakan manfaat daripada bahaya yang ditimbulkan teknologi. Manakah yang benar dan yang salah? Teknologi, Fiqih Siyasah atau Pemerintah? sebagai pemegang kebijakan. Stmj.25/07/11

Thursday, 28 July 2011

“Berbicara Disiplin Waktu”

Posted by Admin 18:57:00, under ,,, | No comments


a.   Disiplin waktu
Waktu bagaikan pedang, barang siapa yang tidak pandai menggunakan pedang maka bisa jadi pedang akan mencelakai orang itu sendiri. Begitu juga dengan waktu, jika seseorang tidak pandai memanfaatkan waktu maka akan celaka oleh waktu itu sendiri. Demikian kurang lebih penafsiran kata pepatah yang tidak asing lagi kita dengar. Celaka karena waktu bukan berararti sama dengan celaknya ketika pedang mengenai tubuh, akan tetapi celak oleh waktu berate rugi dimana berdampak secara perlahan dan berkepanjangan selama kita tidak bisa memanfaatkan waktu.

          Mudah mengatakan bahwa waktu itu sangat berharga, bahkan waktu itu adalah emas. Akan tetapi tidak sembarang orang dapat konsisten dengan waktu. Hanya tipe orang yang bekepribadian disiplin bisa menggunakan waktu sebaik mungkin. Meskipun demikian, disiplin waktu dapat ditanamkan pada setiap orang melalui kebiasaan. Apabila orang dididik dalam lingkungan yang sangat menghargai waktu serta disiplin maka dapat mencetak kepribadian yang disiplin pula. Namun sebaliknya, akan berbahaya jika seseorang tidak bisa menghargai waktu sebaik mungkin, karena persoalan waktu ini sangat penting jika kita amati.

          Coba kita amati Negara seberang sana yaitu China. China adalah salah satu conth Negara yang termasuk Negara disiplin tinggi, entah itu karena sebab nenek moyang, karena daerah yang sangat mendukung atau mungkin karena makanan. Bahwa yang jelas China tidak meremehkan dalam urusan waktu. Mulai dari kepribadian masing-masing hindividu hingga pada tingkat organisasi. Baik pelajar maupun tidak pelajar orang china suka membaca buku untuk menambah wawasan, tidak heran jika orang china itu mayoritas cerdas dan kaya karena memang mereka dari kecil dididik menjadi orang yang disiplin. Setiap even-even yang diadakan oleh china selalu tepat waktu, seperti salah satu even yang pernah saya ikuti ketika memperingati 100 harinya almarhum Gus Dur yang diadakan di Hitech Mall Surabaya. Begitu takjubnya melihat pelaksanaan acara tersebut, para undangan yang mayoritas China tersebut ternyata maksimal datang 15 menit sebelum acara dimulai. Maka tidak salah Rasulallah sendiri bersabda “belajarlah sejauh mungkin walaupun ke negeri China”.

          Suasana tersebut berbandig terbalik ketika saya mengikuti acara yang diadakan Nahdlatul Ulama (NU) salah satu organisasi terbesar di Indonesia. Acara bisa molor tidak sesuai dengan jadwal yang tercantum dalam undangan. Bahkan molornya waktu bukan dalam hitungan menit tetapi jam, kadang satu hingga dua jam molor dari jadwal. Siapakah yang salah dalam acara tersebut? Peserta undangan ataukah jadwal acara?. Bagaimanapun juga suatu kesalahan itu ada pada orang atau pelaksananya bukan pada teknis pelaksanaan.

          Dengan budaya buruk yang mungkin sudah mendarah daging dalam tubuh NU.
Setidaknya saya berharap ada sedikit upaya dalam menerapkan disiplin waktu, yang mana mungkin itu dapat dimulai dari tokoh-tokoh yang mempunyai pamor dengan berbaris di depan dengan membawa bendera disiplin waktu. Yang insya alloh dapat diikuti oleh jajaran maupun masyarakat nahdliyin. Jangan sampai ketidak disiplinan itu malah muncul disebabkan oleh para tokoh sendiri namu sebaliknya.

b.   Manajemen Waktu     
Terlepas dari itu tak kalah pentingnya juga dalam kematangan memanage atau mengatur waktu. Mengatur dan menentukan teknis waktu ini sepertinya sepele namun sebenarnya sangat penting. Sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi jika mengesampingkan waktu. Contoh : pada moment besar NU kemarin di Gelora Bung Karno Jakarta. Bukannya moment HARLAH menjadi moment untuk menunjukan kebersamaan di mata public tetapi malah sebaliknya. “HARLAH NU ke 85 tahun mengabdi bangsa” tersebut malah menuai dua opini yang dapat dikatakan menurukan citra dari pada NU sendiri. Pertama, NU sebagai ormas terbesar di Indonesia saat ini tidak lagi utuh. Kedua, NU tidak lagi percaya dengan kepemimpinan Sby sebagai presiden RI.

          Hal yang melatar belakangi munculnya dua opini tersebut yaitu ketika Pak Sby naik panggung untuk memberikan sambutan, tribun sebelah barat terlihat kosong yang sehingga disoroti media masa bahwa NU tidak lagi solid. Bahkan, ada yang mengatakan “masak kalah dengan supporter sepak bola?”. “masak kalah dengan HTI yang waktu itu juga pernah harlah di Gelora Bung Karno?”. Kalau saya menilai, hal ini bukan dikarenakan masyarakat NU kurang disiplin dalam menggunakan waktu, akan tetapi manajemen waktu yang kurang pas dengan situasi.

Coba kita cermati pada waktu itu dimana saya tahu bagaimana keadaan sebenarnya. Sekitar pukul 05.30 waktu Jakarta para peserta yang ingin menyaksikan perayaan harlah tiba di lokasi, yang terdiri dari berbagai daerah yang ada di seluruh Indonesia. Sekitar pukul 09.00 peserta pada berebut dan berdesakan untuk dapat memasuki stadiun, tetapi stadiun masih belum dibuka sehingga para peserta terpaksa berdesakan dan harus mundur menunggu pintu stadium dibuka. Setelah beberapa menit kemudian pintu terbuka dan peserta memenuhi hampir seluruh tribun hingga sampai pukul 12.30. karena mungkin mereka jenuh menunggu acara inti belum juga dimulai, peseta akhirnya anyak yang keluar entah itu untuk melaksanakan sholat dzuhur atau apa. Yang pada akhirnya sekitar pukul 13.30 pak Sby sambutan, tribun dalam keadaan kosong kecuali yang VIP. Dari kondisi seperti inilah media masa khususnya yang meliput acara tersebut kemudian menilai bahwa NU tidak lagi solid dan NU tidak lagi percaya dengan Sby.

Saya pikir dua opini tersebut muncul karena kurang matangnya dalam mengatur waktu. Mulai dari waktu perkiraan sebelum hingga selesai acara. Meskipun opini tersebut cukup mengecewakan bagi masyarakat Nahdliyin, namun tidak membuat masyarakat nahdliyin minder akan tetapi menjadikan sebuah pembelajaran yang sangat berharga bahwa menggunakan waktu yang semaksimal mungkin adalah sangat penting demi kelangsungan misi dan visi baik individu maupun secara organisasi. Stmj.27/07/11

Sunday, 10 July 2011

Perkembangan Konsep Teknologi Pendidikan Dan Revolusi Pendidikan

Posted by Admin 09:52:00, under ,,, | No comments


Sebenarnya dalam sejarah perkembangan Teknologi Pendidikan / Pembelajaran telah mengalami 3 (tiga) tahapan revolusi, Beckwith (1998: 4) menyebutnya Teknologi Masa Lampau, Teknologi Masa Sekarang dan Teknologi Masa Depan.
Teknologi Masa Lampau, dilukis sebagai teknologi yang menggunakan pendekatan peralatan (Tool Approach) yaitu pemakaian peralat audio visual (OHP, Film bingkai, Film dsb) dalam usaha membantu tenaga pendidik dalam memperbaiki pembelajarannya dalam kelas artinya revolusi pertama ini mempunyai fungsi utama “membantu tugas guru”.
Teknologi Masa Sekarang, dikenal sebagai teknologi yang menggunakan pendekatan sistematik (Systematic Approach) yaitu pengembangan dan penerapan proses-proses metodologis yang berlandaskan hokum-hukum atau aturan-aturan dalam usaha untuk memudahkan belajar. Sistematik berarti mengikuti urutan atau aturan. Artinya revolusi kedua terfokus pada usaha merancang, mengembangkan dan mengemplimentasikan dan menilai pembelajaran bermedia jadi system pembelajaran tersebut media dirancang untuk mampu mengajar dan membelajarkan tanpa menghadirkan guru sehintgga memerlukan langkah-langkah sistematik.
Teknologi Masa Lampau, menggambarkan pengunaan pendekatan yang bersifat sistematik(System approach) yang penciptaan keseluruhan merupakan satu kesatuan yang bersifat dinamis (dari keadaan sebelumnya yang merupakannkomponen-komponen yang lepas) dalamusaha untuk mempengaruhi terjadinya transformasi belajar. Harapan dalam teknologi ini dapat terciptanya persekolahan yang lebih baik, proses belajar yang lebih baik, transformasi yang lebih baik, komunikasi instraktif yang lebih baik dan dunia yang lebih baik.
Dari ulasan diatas, bagaimana kita semua dalam menanggapi perkembangan sekarang dalam kenyataannya ? Kalo boleh saya berpendapat: Kenyataan yang sebenarnya kalo kita melihat bahwa teknologi pendidikan / pengajaran masih berada dalam keterbatasan, inilah yang menjadi banyak menjadi kekecewaan pada kalangan teknolog pendidikan / pengajaran, karena dalam kondisi sekarang ini teknologi / pembelajaran masih belum mampu membantu mengatasi banyak persoalan dalam bidang pendidikan dan pembelajaran. Padahal kita semua sekarang sudah masuk pada era globalisasi yang perkembangannya semakin dasyat dirasakan dan mau tidak mau kita terseret untuk dapat mengikuti dengan keterbelengguan. Bagamana anda menanggapi permasalahan tersebut ?
Pada abad 21 ini dikenal dengan sebutan masa atau era Globalisasi atau juga disebut dengan era Informasi, secara sadar dapat dirasakan dampaknya oleh masyarakat, terutama dengan semakin banyaknya saluran informasi yang tersedia. Eric Ashby (1972) mengatakan bahwa telah terjadi revolusi ke-empat dalam bidang Pendidikan. Revolusi pertama; ketika orang tua menyerahkan anaknya untuk dididik oleh orang yang berilmu (guru), Revolusi ke-dua; telah digunakannya alat tulis untuk keperluan pendidikan, Revolusi ke-tiga; ditemukannya mesin cetak, sehingga materi dapat disajikan dalam bentuk buku dan Revolusi ke-empat; telah ditemukannya perangkat elektronik.Selanjutnya Eric Ashby memberikan 7 (tujuh)  ciri-ciri revolusi ke-empat antara lain:
  1. Berkembangnya pendidikan di luar kampus, sebagai bentuk pendidikan berkelanjutan.
  2. Mahasiswa mendapatkan akses lebih besar dari berbagai sumber.
  3. Perpustakaan sebagai pusat sumber belajar merupakan cirri dominan dalam kampus.
  4. Bangnan kampus yang berserak dengan kampus inti dipusat dan kampus satelit yang ada di tengah masyarakat.
  5. Tuntutan bagi mahasiswa untuk menguasai teknologi.
  6. Tumbuhnya profesi bari dalam bidang media dan teknologi
  7. Mahasiswa dituntut untuk belajar mandiri
Bukhopadhyay M (1995) juga berpendapat bahwa kecenderungan globalisasi memicu dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional kearah pendidikan yang lebih terbuka. Pendapat ini mengajak kita pelaku pendidikan untuk tidak selalu dinina bobokan oleh kebiasaan lama yang sudah menyatu dirinya untuk dipakai sebagai senjata yang ampuh untuk menembus permasalahan pendidikan yang semakin komplek. Pendidikan yang menyenangkan, enjoy harus dapat kita lakukan untuk mengganti pola lama yang membosankan. Bishop G. (1989) meramalkan bahwa pendidika masa mendatang akan bersifat luwes (fklexible), terbuka, dan dapat diakses oleh siapapun. Mason R. (1994) berpendapat pendidikan masa mendatang akan lebih ditentukan oleh jaringan, bukan gedung sekolah. Sedangkan Tony Bates (1995) menyatakan bahwa teknologi dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan bila digunakan secara bijak untuk pendiikan dan latihan dan mempunyai arti yang sangat penting bagi kesejahteraan ekonomi. Pendapat tersebut juga telah banyak member pandangan pada kita semua untuk mendapatkan pendidikan dengan cara tidak tergantung pada pendidikan / pembelajaran yang kaku akan tetapi kita semua akan mendapatkan dari jaringan Teknologi Telekomunikasi dan Informasi (TTI). Hal ini diperkuat dengan pendapat Romiszowiski & Lewis (1995) yang memprediksi bahwa penggunaan “Computer Mediated Communication (CMC)” atau komunikasi multimedia dengan computer dengan kemampuannya mengintegrasikan sumber informasi secara on-line memiliki peluang untuk dimanfaatkan dalampendidikan dan pelatihan mengingat CMC dapat menyampaikan pendidikan yang bersifat Sinkronus (dua arah) maupun asinkronus (searah).
Pandangan tersebut di atas kita dapat member prediksi sebagai anggapan bahwa dengan globalisasi maka pendidikan di masa mendatang akan lebih terfokus pada jaringan, terbuka dan dua arah, beragam, multidisipliner serta terkait pada produktivitas kerja saat itu juga dan kompetitif. Seharusnyalah kita selaku pemerhati pendidikan / pengajaran tanggap dan menyadari bahwa perluasan kesempatan pendidikan secara linier dan konvensional akan memakan waktu yang lama dan mahal, mungkin saja akan kurang responsive terhadap gejolak dinamika perubahan. Peluang-peluang yang ditawarkan oleh Teknologi Tinggi ini agar dapat menerobos hambatan-hambatan dan keterbatasan-keterbatasan system yang konvensional maka pemanfaatan teknologi hendaknya dilaksanakan secara bijak.
RUJUKAN:
AECT (Association for Educational Communication and Technology), 1994, The Definition of Educational Technology, Washington, DC.
Ashby, Eric, 1972, The Fourth Revolution: Instructional Technology in Higher Education,A Carnegie Commission on Higher Education Report, New YorkK McGraw-Hill Book Co.
Bates, Tony, 1995, Technology, Open Learning AND Distance Learning, London: Routledge.
Beckwith, Don, 1988, The Future of Educational Technology, Canadian Journal of Educational Communication.
Bishop, G., 1989, Alternative Strategies for Education, London: McMilan Publisher Ltd.
Ely, Donald P, 1997, Bahan Kuliah Fakultas Pascasarjana IKIP Jakarta.
Heinich, Robert, 1984, The Proper Study of Instructional Technology, Educational Communiction and Technology Journal.
Mason, R., 1994, Using Communiction Media in Open and Flexible Learning, London: Kogan Page Ltd.
Miarso, Yusufhadi, 2005, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Diterbitkan Atas Kerja Sama dengan Pustekkom DIKNAS, Kencana, Jakarta.
Mukhopadhyay, M., 1995, “Shiffting Paradigm in Open and Distance Education” Paper presented at IDLN Fist Symposium, Yokyakarta.
Prawiradilaga, Salma, Dewi dan Siregar, Eveline, 2004, Mozaik Teknologi Pendidikan, Diterbitkan atas kerjasama dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Kencana, Jakarta.
Romiszowski, A. J., 1992, Computer Mediated Communication: A Selected Bibliography, Englewood Cliffs, NJ.: Educational Technology Publications.
 Sumber : http://data.tp.ac.id/artikel/25/Perkembangan+Konsep+Teknologi+Pendidikan+Dan+Revolusi++Pendidikan+.htm

Thursday, 7 July 2011

TERM OF REFERENCE (TOR) LATIHAN PELATIH (LATPEL) PP. IPNU &PW. IPNU JAWA TIMUR TAHUN 2011

Posted by Admin 19:49:00, under ,,, | No comments

          Kaderisasi berarti proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader. Kader merupakan orang yang diharapkan akan memegang peranan penting di dalam pemerintahan, partai, ormas, dan sebagainya. Dalam kehidupan berorganisasi, kaderisasi ini bertujuan untuk membentuk kader yang bisa menggerakkan organisasi, himpunan, ataupun kelompok dengan kepentingan masing-masing agar dapat terus berkembang.

          Mengapa harus ada kaderisasi?, Pertanyaan semacam ini sering mengemuka dalam sebuah organisasi. Untuk menjawab pertanyaan tersebut harus di fahami bersama bahwa setiap sejarah membutuhkan generasi yang dapat “berbuat” untuk zamannya; dalam abad besar, tantangannya pasti besar dan dengan demikian membutuhkan generasi yang besar. Tapi barangkali itu terlalu muluk dan sok filosofis. Kita tengok dengan teropong yang lebih dekat.

         Dalam ilmu politik, dikenal tiga domain yang menyangga setiap bangsa, yaitu state (negara), capital (modal/pasar) dan civil society (masyarakat sipil). Dalam konfigurasi itu negara maupun pasar potensial melakukan tindakan yang merugikan masyarakat. Berbagai kebijakan dan orientasinya sering tidak memihak pada rakyat. Orientasi pasar dan politik yang terlalu tinggi tidak jarang menggusur kepentingan rakyat banyak, terutama rakyat kecil. Celakanya lagi, apabila dua kekuatan itu berkolaborasi. Rakyat pasti dirugikan. Ketidakadilan, kemiskinan, penggusuran adalah buah yang selalu dipetik dari “perkawinan” keduanya.

        Nah, bagaimana agar itu tidak terjadi? Dibutuhkan penyeimbang dan pengontrol. Tidak lain, itu adalah kekuatan masyarakat sipil (civil society). Untuk melakukan tugas sejarah itu, masyarakat harus “bergerak”. Gerakan kontrol, advokasi, dan penjagaan keseimbangan yang efektif dan berkualitas hanya bisa dilakukan oleh masyarakat sipil yang kuat. Karenanya penguatan civil society adalah keniscayaan yang tidak dapat ditunda.

        Banyak jalan untuk menunaikan “jihad peradaban” ini. Salah satunya melalui organisasi keagamaan dan kemasyarakatan. Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) yang sejak lahirnya memang didesain sebagai “jamiyyah” civil society, memegang peran penting dalam proses ini. Sementara untuk menjamin kebersinambungan estavet, tentu NU butuh organisasi yang bergerak dalam pengkaderan. Tidak lain, yang dimaksud adalah IPNU.

         Di sinilah IPNU “bertugas”. Sebagai investasi civil society masa depan IPNU lahir sebagai organisasi kader. Salah satu ciri penting organisasi kader adalah penekanannya pada aspek pengkaderan. Dengan kata lain, IPNU bertugas mencetak “generasi besar” yang siap melakukan pertempuran di medan juang masa depan yang kian ganas. “Perlawanan” untuk menciptakan kondisi ideal (ideal future) dipastikan akan semakin menantang. Karenanya dibutuhkan gerakan yang ideal. Untuk melakukan gerakan yang ideal dibutuhkan kader ideal. Nah, di sinilah proses kaderisasi menemukan momentum, tentu dengan sistem dan manajemen yang bekualitas dan terencana serta konsep yang paradigmatik.

        Berpijak dari berbagai hal tersebut di atas, Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Timur sebagai salah satu garda terdepan kaderisasi NU yang mempunyai 41 Pimpinan Cabang, 650 Pimpinan Anak Cabang serta lebih dari 8000 Pimpinan Ranting dan Komisariat mempunyai mandat besar untuk mencetak kader-kader potensial yang akan meneruskan dan mengemban amanat di Nahdlatul Ulama dan juga Bangsa Indonesia. Untuk PP. IPNU bersama dengan Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Timurmenyelanggarakan Latihan Pelatih yang di khususkan untuk mencetak kader pelatih yang handal, cerdas dan berkualitas.

Wednesday, 22 June 2011

MUHAMMADIYAH DAN TRADISI TAHLIL

Posted by Admin 10:57:00, under ,,,, | No comments


Oleh : Dr. Mujiono Abdillah, MA
Dalam komunitas Muhammadiyah, tahlil menjadi persoalan kontroversial, sebagian setuju dan sebagian yang lainnya menolak terhadap tahlil. Kalaupun ada yang setuju namun tetap memberi persyaratan tertentu. Di sisi lain, Muhammadiyah juga bermakud mengembangkan panga pasar dakwahnya dengan pendekatan kulutural. Singkatnya Muhammadiyah juga perlu konsep tahlil alternatif yakni tahlil ala Muhammadiyah. Makalah ini akan menguraikan tahlil modern meliputi pendahuluan, konseptualisasi dan prosesi.
Pengertian; Untuk memberikan pemahaman yang tetap tentang Tahlil Modern, perlu dijelaskan pengertiannya baik secara etimologi maupun terminogis. Secara etimologis, tahlil modern terdiri dari dua kata yakni “tahlil” dan “modern”. Tahlil merupakan kata benda jadian yang diturunkan dari akar kata ¬hallala – yuhallilu – tahlilan yang berarti membaca kalimat “laa ilaaha illallah”. Kata hallala sendiri merupakan kata kerja jadian dengan pola menyingkat kalimat “yaqrau laa ilaaha illallah” menjadi hallala. Hal ini seperti kata kerja jadian lain sejenisnya misal : hamdala, basmala, hay’ala dan lain – lain. Inilah maksudnya tahlil berarti membaca kalimat laa ilaaha illallah. Sedangkan kata modern berarti maju. Ciri utama disebut maju adalah penekanan pada spek rasionalitas.
Adapun secara terminologis, tahlil modern berarti upacara spiritual didahului dengan niat, diikuti dengan pembacaan kalimat – kalimat dan ayat – ayat Al – Qur’an terntetu dan serta diakhiri dengan do’a tertentu yang dilandasi oleh prinsip raionalitas. Kalimat – kalimat tersebut meliputi tahlil, takbir, istighfar, tasbih, shalawat, sedangkan ayat Al – Qur’an meliputi Surat Al – Fatihah, An – Nas, Al – ‘Alaq, Al – Ikhlas dan Al – Baqarah.
Tahlil modern dapat juga disebut tahlil rasional. Rasionalitas Tahlil Modern terletak pada obyektivitas dan spekulatif dalam bertahlil. Secara obyektif amalan – amalan berupa bacaan kalimat yang baik dan ayat – ayat Al – Qur’an pilihan tertentu akan berpahala bagi pelaku tahlil dan pahala tentu akan diberikan kepada pelakunya secara proporsional. Tahlil Modern juga menghindakan diri dari perilaku teologi spekulatif yakni tidak mengirimkan pahala tahlil bagi orang meninggal yang ditahlilkan. Sebab tahlil modern melepaskan dirinya dari konsep pengiriman pahala.
Waktu ; Moment Tahlil Modern adalah netral. Artinya tahlil Modern dapat mengambil moment pada hari-hari tertentu yang definitif pasca kematian seperti hari ketiga,tujuh,empat puluh,seratus dan seribu, dan dapat pula mengambil hari tanpa terikat dengan hari-hari definitif tersebut. Penentuan momentum Tahlil Modern disunnahkan kepada penyelenggaranya.
Kalaupun moment yang diambil adalah hari-hari definitif tersebut tetap harus lepas dari keyakinan bahwa roh orang yang meninggal datang bersamaan dengan datangnya hari-hari definitif tersebut.
Tujuan ; Tujuan dari Tahlil Modern adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membaca kalimat-kalimat terpilih. Setelah upaya pendekatan diri tercapai diikuti do’a mohon ampun baik bagi peserta tahlil sendiri maupun bagi orang-orang yang sudah meninggal ecara umum dan orang-orang terkasih penyelenggara Tahlil Modern. Dengan demikian , Tahlil Modern bukan bertujuan mengirimkan pahala bacaan tahlil untuk arwah tertentu.
Hukum ; Status hukum penyelenggaraan Tahlil Modern adalah mubah, netral. Artinya Tahlil Modern dilakukan ataupun tidak dilakukan tidak mengandung akibat hukum dosa atau berpahala. Hanya saja, karena Tahlil Modern berisikan amalan – amalan baik maka jika dilakukan tentu akan berdampak hukum secara poitif. Bacaan-bacaan Tahlil Modern termasuk bacaan-bacaan yang baik tentu saja termasuk dalam kategori ibadah qauliyah yang berpahala.
Prosesi ; (a). Niat ; Niat tahlil modern adalah mendekatkan diri pada Allah dengan cara membaca kalimat dan ayat – ayat pilihan. Oleh karena itu, sekedar sebagai contoh niat tersebut dapat diungkapkan dengan kalimat : “Kita berkumpul dalam majlis ini bermaksud membaca tahlil modern dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tahlil ini diselenggarakan atas permintaan Bapak .......... yang telah mendahului kita ...........hari atau tahun yang lalu. Menurut informasi yang dapat dipegangi : almarhum / almarhumah dikenal sebagai orang yang suka beramal baik. (sebut contohnya). Berkaitan dengan ini semoga menjadi I’tibar bagi kita semua. Oleh karena itu, marilah kita membaca tahlil dengan seksama : ‘Ala Hadzihi al – Niyah al – Maksudah al – Fatihah....”
(b). Bacaan ; Bacaan kalimat – kalimat dan ayat – ayat pilihan Tahlil Modern antara lain dapat diurutkan sebagai berikut : 1). Surat Al – Fatihah, 2). Surat Al – Ikhlas, 3). Surat Al – Falaq, 4). Surat An – Nas, 5). Surat Al – Baqarah ayat 1 - 5, 6). Ayat Kursi, 7). Isti’fa’ (wa’fu ‘anna waghfirlana, dst), 8). Tarhim 7 x (Irhamna yaa Arhamarrahimiyn), 9). Istighfar 7 x, 10). Tahlil 33 kali, 11). Tasbih 7 x, 12). Shalawat 3 x, 13). Pengakhir (Tahlil Modern ditutup dengan Surat Al – Fatihah)
(c). Do’a ; Do’a Tahlil Modern bukan do’a pengiriman pahala bacaan tahlil bagi yang ditahlilkan melainkan do’a pendekatan diri kepada Allah dan mohon ampun baik bagi pelaku tahlil maupun orang yang dikenang.
-----------------------------------------------------------------------
Makalah Dr. Mujiono Abdillah, MA, (Majelis Tarjih Muhammadiyah Jawa Tengah), disampaikan dalam Seminar di Universitas Muhammadiyah Purworejo, tanggal 29/09/2002, diringkas oleh Marwan Ibnu Marghani dalam buku Majmuk Fiqih Indonesia Jilid 4; Tahlil dan Teologi Pembebasan; halaman 55 – 56, cetakan ke 1 Jumadil ‘Ula 1429 / Mei 2008. Judul Asli Tulisan dalam buku adalah : “Tokoh Muhammadiyah Menggagas Tahlil Modern”

Monday, 20 June 2011

Workshop Kaderisasi; Penanaman Konsep Kaderisasi Untuk PC. IPNU Se-Jatim

Posted by Admin 02:28:00, under ,,,, | No comments

           Sebenarnya banyak sekali potensi para kader IPNU di daerah – daerah yang belum terwadahi dengan baik. Hal ini sangat disayangkan, karena potensi yang seharusnya dapat menigkatkan internal IPNU sendiri harus terabaikan begitu saja. Melihat kondisi seperti ini perlu kiranya membenahi wadah untuk memperkuat pengkaderan mulai dari tingkat bawah seperti Pimpinan Ranting, Pimpinan Anak Cabang, Pimpinan Cabang, Pimpinan Wilayah hingga Pimpinan Pusat.
          Mengingat begitu luasnya jangkauan untuk target pengkaderan maka perlu adanya wadah pengkaderan di setiap tingkatan, seperti Pimpinan Pusat harus memiliki wadah pengkaderan di masing – masing Wilayah se Indonesia, kemudian Pimpinan Wilayah harus memiliki wadah pengkaderan di setiap cabang dan begitu seterusnya hingga tingkatan paling bawah Pimpinan Ranting. Upaya ini sangat efektif untuk mencetak kader – kader yang militan.
         Semakin banyaknya paham maupun wacana – wacana yang mungkin mencoba untuk menyimpang dari Ahlussunah Waljama’ah yang hamper di setiap tingkatan, khususnya tingkat bawah yang pada umumnya masih polos menjadi perhatian khusus Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ualam Jawa Tmur dalam membentengi kader – kader yang masih Polos tersebut.
         Saya pikir terobosan yang sangat luar biasa di tengah – tengah era Global seperti saat ini. Workshop Kaderisasi dengan tema “Revitalisasi Pengkaderan, Menyongsong Masa Depan IPNU”, begitulah kiranya upaya yang dilakukan oleh PW. IPNU Jatim bekerjasama dengan PP. IPNU Jakarta. Yang mana acara dikemas sedikit berbeda dari LATPEL ( Latihan Pelatih ) yaitu Proses prngkaderan yang harus dilalui sebelum masuk kepengurusan di tingkat Pimpinan Cabang (PC). Dengan diadakanya kegiatan ini PW. IPNU Jatim berharap agar para delegasi yang dikirim untuk mengikuti Workshop dapat dijadikan perantara dalam mewadahi kader di daerahnya masing-masing.
        Tim pengkaderan PW. IPNU Jatim, Rekan Imam Fadli menjelaskan dalam pembukaan Workshop Kaderisasi tersebut, “memang sengaja dalam proses pengkaderan ini dibuat seperti Worshop karena memang sama sekali tidak mengurangi eksistensi daripada materi itu sendiri. Ini adalah bentuk upaya kami sebagai Tim Pengkaderan untuk IPNU Wilayah Jawa Timur mungkin dirasa Workshop ini kurang maksimal namun ini adalah salah satu upaya kami kepada para kader untuk mencetak kader yang berkualitas”.
        Workshop yang dilaksanakan di Balai PUSDIKLAT PW. LP. Ma’arif Jawa Timur tersebut diikuti oleh masing-masing delegasi dari setiap Cabang yang ada di Jawa Timur yaitu 42 Cabang. Forum yang sangat tepat, dimana Pengurus Pimpinan Wilayah dan Tim Pengkaderan Cabang berkumpul dalam satu ruangan. Hal ini dapat dimanfaatkan baik dari Wilayah maupun Cabang, Wilayah menjadi apa kendala dalam proses pengkaderan yang ada Cabang se-Jatim. Begitu sebaiknya, Cabang dapat menshare langsung ke Wilayah terkait dengan maslah yang ada di daerah masing-masing. Semoga dengan adanya terobosan ini khususnya kader IPNU menjadi lebih kompeten.

Sunday, 19 June 2011

Pilar – Pilar Kejayaan Islam dan Airan-aliran yang Menyimpang

Posted by Admin 08:23:00, under ,,,, | No comments


          Ketika Rasulullah SAW akan melaksanakan Isro’ Mi’roj, yakni pada tahun ke 13 kenabian. Dada Rasulallah SAW dibedah oleh malaikat Jibril. Dibawa mendekat ke sumur Zamzam. Di situ dada Rasullallah disucikan dengan air zamzam dan diisi dengan Iman, Ilmu, Keyakinan, Kearifan dan Kesabaran. Keempat inilah yang dimasukkan ke dalam dada Rasullalah SAW, karena beliau adalah seorang pemimpin umat se jagad raya, yang membawa umat dari zaman jahiliyah menuju Isamiyah. Iman merupakan pondasi untuk memberi dorongan motivasi dan dorongan spiritual. Dari iman inilah maka muncul taqwa. Iman dan taqwa kemudian membentuk akhlaq. Dari akhlak yang dimiliki masing-masing indvidu ini membangun keluarga. Karena keluarga adalah basis dalam masyarakat. Masyarakat Indonesia yang besar ini dapat diringkas dalam keuarga. Maka jika kelurga ini baik maka akan baik seluruh Indonesia dan begitu sebaliknya.
          Kemudian dengan ilmu, seseorang akan lebih maju dan dapat mengetahui situasi masyarakat yang dihadapinya. Begitu juga dengan Negara yang berilmu maka negara ini akan maju dengan masyarakat yang sejahtera. Dengan ilmu orang dapat berfikir maju, nah, inilah sosok Rasulallah SAW, Keyakinan. Orang harus memliki eyakinan dan harus optimis melakukan perbuatan, namun harus berusaha secara penuh. Sebagai ummat islam jangan memilik pemikiran yang sempit, bergaul dengan berbagai kalangan, tetapi tidak boleh terjebak, apalagi menjadikan akidah hanya untuk meraih duniawi. Karena saat ni banyak orang menjual aqidah dengan sangat murah. Kesabaran yakni ketahanan fisik dan mental, kearifan. Itu diwariskan kepada khulafaurrosyidin, kemudian para tabi’in dan tabi’at tabi’in, para ulama dan hingga zaman sekarang.
          Kalau kita melihat kejayaan islam semasa zaman keemasannya bangga, ini sejarah. Sejarah boleh jadi pemantik semangat untuk bangkit kembali dari tidur yang panjang ini. Karena itu untuk membangun pilar-pilar kejayaan umat islam. Umat islam harus lebih menyantuni kepada sesama terutama yang lemah. Begitu juga dengan Negara yang mayoritas dihuni oleh kaum muslimin. Minimal negara dapat menerapkan nilai-nilai yang telah diajarkan oleh islam.
          Pemerintah harus peka terhada kekuatan-kekuatan dari luar yang ingin melemahkan umat islam yang mayoritas ada di Negara Indonesia ini. Misalnya konsep kaitalisme, konsep pluralisme, konsep liberalisme harus dtolak. Karena ini merupakan skenario global untuk melemahkan umat islam. Saya banyak menemukan buku-buku yang di tulis oleh kelomok-keompok tertentu yang sengaja ngin mendangkalkan aqidah islam. Umat islam tidak boleh begitu saja menerma.
          Misalnya yang saat ini lagi hangat-hangatnya alran Ahmadiyah. Alran ini merupakan bikinan dari inggris di india tahun 1988 yang mengaku sebagai nabi. Orang-orang ahmadiyah memaknai surat Al Ahzab 40. Mereka memaknai “Khatam“ adalah Cincin. Sehingga menurut mereka Muhammad adalah cincin terhormat di antara para nabi-nabi. Ini terjemahan dan tafsiran yang ditolak oleh umat islam. Dalam Q.S Yasiin : 65 maknanya : pada hari ini kami tutup mulut mereka dan berkatalah tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang mereka usahakan.
          Kalau “Khatam” artinya cincin, apakah kemudian diartikan “pada hari ini kami cincinkan mulut-mulut mereka”. Tentu tidak pas. Ahmadiyah berpendapat bahwa mungkin saja ada nabi baru lagi setelah nabi Muhammad SAW. Kalau Allah berkehendak apa yang tidak mungkin. Lalu mengambil dasar-dasar Surat Alhajj : 75.
          Kalau kita bicara tetang pilar-pilar kejayaan ummat islam maka kita harus membangun. Pertama, Quwwatur Rihiyah (kekuatan rohani) yang kuat. Yaki keimanan yang kokoh. Kedua, Quwwatul Wihdah kekuatan persatuan). Ukhwuwah islamiyah yang erat. Ketiga, QQuwwatul Maadiyah (Kekuatan ekonomi). Mari kita kerja keras untuk kebangkitan umat islam. Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang tinggi derajatnya. Jika kamu orang-orang yang beriman.
Suber : Buletin Dakwah Jum’at Al Akbar Edisi 013 / 06 Rabiul Akhir 1432 / 11 Maret 2011

Saturday, 4 June 2011

7 Langkah Membangun Percaya Diri Yang Tak Tergoyahkan

Posted by Admin 03:40:00, under ,, | No comments

        Tak dapat dipungkiri kita semua pasti pernah mengalami rasa tak percaya diri sesekali waktu. Adakalanya agak sulit untuk membangkitkan kembali rasa percaya diri itu sewaktu kita sedang membutuhkan. Sebenarnya ada latihan sederhana yang dapat dipraktekkan untuk mendapatkan rasa percaya diri Anda agar kembali ke jalurnya secepat mungkin saat dibutuhkan. Berikut kami sampaikan tujuh langkah membangun rasa percaya diri yang tak tergoyahkan.

1. Perhatikan Postur Tubuh - Mungkin kedengarannya ini tak memiliki hubungan dengan rasa percaya diri yang kita bicarakan ini, tetapi sebenarnya bagaimana sikap duduk atau berdiri Anda, mengirimkan pesan tertentu pada orang-orang yang ada di sekekliling Anda. Jika pesan tersebut memancarkan rasa percaya diri, Anda akan mendapatkan tanggapan positif dari orang lain dan tentu saja ini akan memperbesar rasa percaya diri Anda sendiri. Jadi mulai perhatikan sikap duduk dan berdiri untuk menunjukan Anda memiliki rasa percaya diri.

2. Bergaulah Dengan Orang-Orang Yang Memiliki Rasa Percaya Diri Dan Berpikiran Positif - Lingkungan membawa pengaruh besar pada seseorang. Jika Anda terus menerus berbaur dengan orang yang memiliki rasa rendah diri, pengeluh dan pesimis, seberapa besarpun percaya diri yang Anda miliki, perlahan tapi pasti akan pudar dan terseret mengikuti lingkungan Anda. Sebaliknya, jika Anda dikelilingi orang-orang yang penuh kebahagiaan dan percaya diri, makan akan tercipta pula atmosfir positif yang membawa keuntungan bagi diri Anda.

3. Ingat Kembali Saat Anda Merasa Percaya Diri - Percaya diri adalah sebuah perasaan, dan jika Anda pernah merasakannya sekali, tak mustahil untuk merasakannya lagi. Mengingat kembali pada saat dimana Anda merasa percaya diri dan terkontrol akan membuat Anda mengalami lagi perasaan itu dan membantu meletakan kerangka rasa percaya diri itu dalam pikiran.

4. Latihan - Kapanpun Anda ingin merasakan rasa percaya diri, kuncinya adalah latihan sesering mungkin. Bahkan Anda dapat membawanya dalam tidur. Dengan kemampuan yang terlatih, Anda tak akan kesulitan menampilkan rasa percaya diri kapanpun itu dibutuhkan.

5. Kenali Diri Sendiri - Pikirkan segala hal tentang apa yang Anda sukai berkenaan dengan diri sendiri dan segala yang Anda tahu dapat Anda lakukan dengan baik. Jika Anda kesulitan melakukan ini, ingat tentang pujian yang Anda peroleh dari orang-orang - Apa yang mereka katakan - Anda melakukannya dengan baik? Sebuah gagasan bagus untuk menuliskan semua ini, hingga Anda bisa melihatnya lagi untuk mengibarkan rasa percaya diri kapanpun Anda membutuhkan inspirasi.


6. Jangan Terlalu Keras Pada Diri Sendiri - Jangan terlalu mengkritik diri sendiri, jadilah sahabat terbaik bagi diri Anda. Namun, saat seorang teman sedang melalui masa sulit, Anda tak akan mau terlibat dalam masalahnya hingga menguras emosi Anda sendiri kan? Tentu saja Anda tak mau. Pebicaraan yang positif dapat berubah jadi senjata terbaik untuk menaikan rasa percaya diri, jadi pastikan Anda menanam kebiasaan ini, jangan biarkan permasalahan orang lain membuat Anda jadi terpuruk.

7. Jangan Takut Mengambil Resiko - Jika Anda seorang pengambil resiko, Anda pasti akan temukan kalau tindakan ini mampu membuahkan rasa percaya diri. Tak ada yang lebih bermanfaat dalam menumbuhkan rasa percaya diri layaknya mendorong diri sendiri keluar dari zona nyaman. Selain itu, tindakan ini juga berfungsi bagus untuk mengurangi rasa takut Anda akan ha-hal yang tak Anda ketahui, plus bisa dari pembangkit rasa percaya diri yang luar biasa.

         Lebih dari segalanya, selalu ingatlah bahwa Anda memiliki bakat dan kemampuan. Pastikan Anda selalu melakukan yang terbaik untuk semua itu dan inilah yang akan jadi batu loncatan terbaik untuk membangun rasa percaya diri yang tak tergoyahkan. (erl)

Sumber : KapanLagi.Com

Pengaruh Simbol Terhadap Budaya : Ketupat Membentuk Kebudayaan Bangsa Indonesia

Posted by Admin 03:33:00, under ,,, | No comments

Pengaruh simbol terhadap budaya suatu daerah sangat erat. Khususnya di Indonesia sendiri banyak kita temui budaya maupun nama suatu daerah berasal dari sebuah makanan. Indonesia merupakan Negara yang kaya akan budaya, tak pelak banyak wisatawan asing yang mengagumi Bangsa kita Indonesia. Contoh kecil saja makanan khas indonesia yaitu ketupat
Awal mula ketupat merupakan bagian dari tradisi sebagai simbol perayaan pada abad ke 15. Hingga sekarang ketupat ini tidak menjadi simbol yang asing lagi bagi masyarakat indonesia apalagi menjadi hal yang kontroversi. Ketupat kini sudah menyatu dalam diri bangsa indonesia bahkan sampai melekatnya, ketupat menjadi suatu tradisi masyarakat luas dan bisa dipastikan seluruh masyarakat indonesia mengetahui dan merayakan hal itu.
Bukan hanya sekedar perayaan akan tetapi memiliki makna tersendiri, mulai dari nama, cara pembuatan, bahkan sampai pada bahan yang digunakan. Sehingga secara tidak langsung ketupat ini dapat menimbulkan dampak sikologis sosial bagi masyarakat yang merayakannya apalagi mengetahui sejarah daripada munculnya ketupat itu sendiri. Mengapa demikian?? Coba kita lihat satu persatu makna yang terkandung dalam ketupat.

Awal Ketupat
            Ketupat adalah salah satu bentuk dari media dakwah para wali songo. Pada waktu itu agama masih hindu dan budha, kemudian salah satu kebiasaan yang disukai penduduk adalah berkumpul bersama dengan menikmati hidangan – hidangan ang sudah di siapkan oleh shohibul hajjah (orang yang mempunyai hajat). Nah, dengan demikian para wali songo menggunakan peluang tersebut untuk menyalurkan ajaran islam melalui simbol. Beliau membuat ketupat tidakl hanya sekedar membuat akan tetapi memiliki makna tersendiri yang mana jika makna itu dikaji, sehari semalam tidak akan selesai karena memiliki banyak makna yang tersirat.

Mengajak Berkumpul
            Kata Kupat berarti Ngaku Lepat (mengaku salah), kata ini jika dikaji dapat di ambil suatu kesimpulan bahwa dahulu para wali mengajak berdakwah dengan melalui simbol yang dapat memepengaruhi kehidupan masyarakat melalui simbol – simbol. Ketupat juaga dapat diartikan mengajak tatap muka, di sini mengisyaratkan bahwa masyarakat harus mempunyai tradisi untuk kumpul bersama.
Kemudian mengapa warna janur kuning? Itu hanya sekedar simbol untuk membedakan dengan warna hijau (Timur Tengah) dan merah (Dari Asia). Cara merakit mengapa harus dianyam rapat dan tengah diisi dengan beras? Itu merupakan simbol bahwa pribadi seseorang haruslah memiliki kepribadian yang utuh dan juga jika mempelajari sesuatu itu jangan setengah – setengah akan tetapi harus penuh.
Jika dikaji lebih dalam lagi oleh para pakar sejarah mengenai makna – makna, maka tidak akan selesai karena makna yang tersirat bukan berhenti di situ saja akan tetapi berkaitan dengan ajaran – ajaran islam.
Selain ketupat banyak lagi tradisi yang kemudian menjadi suatu budaya, menjadi ciri karakter pada daerah tertentu, bahkan menjadi suatu nama. Contoh misalnya Kerajaan Mojopahit, sebiuah nama yang diambil dari buah Mojo. Mojo merupakan buah dan Pahit yang rasanya pahit. Dikatakan mojopahit karena daerah yang banyak buah mojo yang rasanya pahit.
Begitu besarnya peran suatu simbol dalam membentuk budaya maupun karakter suatu bangsa. Meskipun arti daripada suatu nama kurang baik, tetap sangat diharapkan bahwa masuarakat dpat menilai hal itu sebagai wacana yang positif sehingga dapat membentuk karakter dan kepribadian masyarakat yang mengagumkan.

Pantas Untuk Bangga
            Dengan begitu banyak kekayaan budaya Indonesia, sudah semestinya kita merasa bangga dan tentunya sebagai warga negara kita harus ikut serta menjaga kebudayaan yang merupakan warisan para  leluhur.